Skip to content
-
  • Teknologi
  • Bisnis
  • Aneka Cerita
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Musik Asik
  • Kesehatan
  • Login
Logo Resmi Rakyat.id Esai website Logo Resmi Rakyat.id Esai website Rakyat.id

Edukasi Untuk Masyarakat Umum

Logo Resmi Rakyat.id Esai website Logo Resmi Rakyat.id Esai website Rakyat.id

Edukasi Untuk Masyarakat Umum

  • Beranda
  • Panduan Sehari-hari
  • Pengetahuan Umum
  • Budaya Indonesia
  • Sitemap
  • Beranda
  • Panduan Sehari-hari
  • Pengetahuan Umum
  • Budaya Indonesia
  • Sitemap
Subscribe
Close

Search

Home/Budaya Indonesia/Kisah Pendekar Tanpa Nama
Img 20180101 165714 876
Budaya Indonesia

Kisah Pendekar Tanpa Nama

By rfq
24 Februari 2018, 03:02:30 1 Min Read
Komentar Dinonaktifkan pada Kisah Pendekar Tanpa Nama

 

Pendekar tanpa nama mempelajari sebuah puisi saat berada di kuil pengabdian sejati

Seandainya kau tanyakan kenapa aku tinggal di bukit hijau

Aku akan diam-diam tertawa;jiwaku tenang

Bunga-bunga persik mengikuti air sungai

Ada langit dan bumi lain di balik dunia manusia

Puisi karangan: Li Bai (Wangsa Tang)

Dari puisi, seorang pendekar tanpa nama belajar tentang  hidup kesederhanaan. Arti puisi mudah dimengerti, tidak rumit untuk dimengerti.  Kesederhanaan dalam hal ini bukanlah suatu kesederhanaan yang didapat tanpa mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi . Penyair menulisnya dengan penuh kemahiran tingkat tinggi.

Kerikil-kerikil putih berloncatan di arus sungai

Satu-dua lembar daun memerah di musim gugur yang dingin

Tak gugur hujan di jalan perbukitan

Namun bajuku basah di udara yang hijau segar

Puisi karangan: Wang Wei

( Wangsa Tang)

Lalu pendekar tanpa nama melihat semua pemandangan hijau dihadapan matanya, bertanya tentang langkah kehidupannya kembali. Pada saat itulah ia teringat tentang sebuah percakapan  antara Hu-ch’iu kepada Lie Zi;

Pengembara terbesar tak tahu ke mana ia pergi;

Pemandangan terbesar tak tahu apa yang dipandangnya.

Pengembaraannya tidak membawa ia ke suatu tempat lebih dari tempat lainnya;

Tidak memandangnya tak terarah

Ke suatu pemandangan lebih dari lainnya.

Itulah yang kumaksud memandang dengan benar

Puisi-puisi  ikut diceritakan dalam sebuah novel pengembara pendekar terbaik yang pernah saya baca yaitu Naga Bumi karya Seno Gumira.

Email 0 Facebook 0 Twitter 0 Reddit 0
X Linkedin 0 Stumbleupon 0
Simpan Ke daftar Baca anda Tambah Ke BookMarks
Author

rfq

Peace | Love | Unity | Respect

Follow Me
Other Articles
20180222 102415
Previous

Komitmen Mandiri Amal Insani Foundation

Img 20180322 Wa0001
Next

Selamatkan Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi

Tag Populler

10 Tips (78) Aneka Cerita (113) BALI (15) Berita Nasional (100) Bisnis (165) Cara Sehat (30) Cerita Wisata (17) Children of the days (23) Covid19 (19) Desa Wisata (19) Destinasi Pariwisata (15) Eduardo Galeano (61) Esai (56) Ibu Pintar (28) Indonesia (13) Joko Widodo (105) kebudayaan (14) Keuangan (100) Kisah Nabi (16) Kuliner Khas (26) Masyarakat (21) Mirrors (30) Musik Asik (18) Olahraga (20) Pariwisata (16) Pasar Modal (14) Pemulihan Ekonomi (13) Pertanian (15) Puisi (21) Rahasia Ibu Pintar (19) Rakyat Bisa (37) Rakyat News (369) Rakyat Punya Cerita (178) Rakyat Sehat (35) Rakyat Teknologi (16) Rumah Tangga (20) Sajak (102) Sajak Pendek (22) Sejarah (25) Sejarah Dunia (15) Suara Rakyat (179) Teknologi (226) Tokoh (22) Wanita (20) Wardah Hafidz (71)

Official

  • Home
  • Terms And Conditions
  • Privacy and Policy
  • Disclaimers
  • About Us
  • Contact Us
  • Sitemap
Copyright {2018} — Rakyat.id. All rights reserved.