Di atas mimbar
Sorot layar, Â lensa kaca dan kilatan cahaya mengambil setiap kejadian
Kau berdiri tegak, rapih dengan setelan jas hitam atau apapun itu, menggunakan topi atau apapun itu
Di kepala tak tahu isinya tentang apa saja
*
*
Mulai menjelaskan, mempertanyakan, menegaskan dan menggarisbawahi
Tapi tanpa bantahan
Ngomong dengan tembok saja terkadang mengirimkan gema suara
Berbicara seperti paling paham , latar belakang, peristiwa, kejadian dan sisi kebangsaan
Penguasa berhimpitan ingin masuk dalam kaca kamera, menghiasi pertunjukan identitas
Hanya menjadi bahan olok-olok para warganya
Memakai dasi seperti penguasa terpilih, apakah mengerti arti wawasan, pengetahuan dan kepemimpinan
Tetapi sebenarnya hanya dengan lembaran uang politik dan kumpulan poling
Mikrofon tersambung, kata-kata terdengar untuk segera dipublikasikan hal penting dan segera
*
*
Istana rakyat dijadikan panggung politik murahan, berisi wacana lupa sejarah, lupa kata, lupa berbangsa
Berbicara seperti orang pintar, menyalinkan tatapan ke depan entah melihat siapa
Kacamatamu tidak untuk melihat dirimu sendiri
*
*
Kacamatamu lalu tertunduk dengan lesu, entah apa yang kau pikirkanÂ
Beginilah jadi penguasa
Gagah , tegap, pandangan ke depan, kepercayaan diri tinggi
*
*
Padahal digaji dari hasil keringat para rakyatnya.
Mencoba setia hanya kepada penguasa dan kelompok, tetapi tidak pada bangsanya
Ternyata hanya simbol penguasa saja terlihat berkemilau.
Kepintaran tertutup oleh jejak kebohongan, keakraban komplotan perusak negeri
Buku bacaan tak ingat lagi isi serta gagasan
Menjadi lupa ingatan lalu terpenjara
*
*
Pemilik negeri menjadi pengadil
Pemilik negeri berkuasa atas keadilanÂ
Pemilik negeri bergerak menuntut kesejahteraanÂ
Penulis: [Cuk]
[rakyat.id]