APRIL MOP : On The Map
Oleh Yaksa Agus
Ada bulan-bulan yang diam. Ada bulan yang bicara. April selalu memilih bicara. Dan kalau bicara, topiknya hampir pasti: seni di tangan perempuan.
Ditambahkan bahwa bulan April selalu menjadi bulan terindah membicarakan seni di tangan kaum perempuan. Bukan karena kalender memaksa, tapi karena sejarah dan ingatan kolektif kita menunjuk ke sana. Tahun ini, ingatan itu berwujud pameran.
Kamis, 9 April 2026 pukul 17.00 WIB, Gedung Serbaguna Galeri Nasional Indonesia di Jakarta dibuka bukan dengan pidato panjang, tapi dengan ketukan palu simbolik dari Ibu Veronica Tan. Malam itu, 12 perempuan perupa lintas generasi menaruh karya mereka di _On The Map Art, Science, Technology & Culture_. Pameran Indonesian Woman Artist (IWA) #4 ini akan berlangsung hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional, menautkan tiga tanggal penting: Hari Perempuan Sedunia 8 Maret, Hari Kartini 21 April, dan Dirgahayu Jakarta ke-499 pada 22 Juni.
Judul _On The Map_ bukan kebetulan. Selama ini perempuan perupa sering ada, tapi tak tercatat. Ada di studio, tapi tak di kanon. Ada di komunitas, tapi tak di pasar. IWA, sejak 2007, digagas Yayasan Cemara Enam sebagai platform untuk melihat kesenimanan perempuan lebih dalam. “Sejak awal, IWA digagas sebagai platform apresiasi sekaligus upaya untuk melihat kesenimanan perupa perempuan di Indonesia secara lebih mendalam,” ujar Ketua Yayasan Cemara Enam, Inda C. Noerhadi.
Tahun ini IWA #4 sekaligus jadi penutup seri, sebelum kelak bermetamorfosis menjadi Biennale/Triennale Perempuan. “Pameran IWA memiliki arti penting karena menghadirkan ruang dokumentasi, presentasi, dan pertemuan karya dengan publik secara berkelanjutan,” kata Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin. “Sejak dimulai pada 2007, rangkaian pameran ini menunjukkan komitmen dalam membangun arsip kultural sekaligus meneguhkan kontribusi perupa perempuan dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas.”
Pameran ini dikurasi oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi, menghadirkan: Bibiana Lee, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, Dyantini Adeline, Endang Lestari, Ines Katamso, Irene Agrivina, KaNA Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Rani Jambak, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito. Lintas generasi, lintas medium, lintas keresahan.
Sejenak mengintip karya di ruang paling depan, karya Tara Kasenda _Révélation_, 2026, mengajak menatap lukisan langit tampak awan berarak sebagai ruang refleksi. Ia menimbang beda rasa antara melihat langsung dan mengingat lewat perantara, dari Jakarta ke Paris. Langit yang sama, tapi ingatan membuatnya berubah, atau flash back jauh ke belakang kita bandingkan sudut pandang lewat lukisan perupa yang sudah tiada seperti Lucia Hartini, Astari Rasyid Umi Dahlan,dan beberala lagi, kita diajak mencoba merangkai perjuangan artistik estetik ditangan perempuan.
KaNA Fuddy Prakoso alumni ISI Yogyakarta, dalam _Zirah Kesadaran_, 2026, bicara pergulatan batin menghadapi tekanan hidup. Ia menaruh relasi kekuatan dan kerentanan berdampingan, menagih kesadaran diri di tengah budaya modern yang serba instan. Zirahnya bukan besi, tapi kesadaran yang ditempa.
Sepuluh nama lain membawa peta masing-masing. Ada yang bicara tanah, tubuh, teknologi, hingga mitos yang ditulis ulang. Semua menandai satu hal: perempuan tidak menunggu diberi ruang. Mereka menggambar petanya sendiri.
Apakah April bulan peralihan? Bukan karena tidak lagi hujan deras, belum juga kemarau panjang. Seperti seni perempuan: tidak lagi diam ditindas, belum sepenuhnya diberi panggung. Tapi terus bekerja.
Seni perempuan sering lahir dari keterbatasan. Ruang pamer yang tak mengundang, kanon sejarah yang tak mencatat, pasar yang tak melirik. Tapi seperti karya monokrom yang dipaksa bicara tanpa warna, batasan itu justru mendorong akal. Perempuan belajar menyampaikan emosi lewat komposisi, bukan dekorasi. Lewat kontras, bukan ornamen. Kalau hanya diberi hitam dan putih, maka garislah yang harus jujur. Kalau hanya diberi dapur dan malam hari, maka dapur itu jadi studio, malam itu jadi jam kerja.
IWA #4 menampar dua tembok sekaligus. Pertama, mitos bakat. Perempuan nyoret sambil ditanya, “nggak ngurus anak?” Nyoret sambil dibilang, “seni nggak kasih makan.” Mereka tetap nyoret. Sabar dan ngeyel jadi bahan bakar harian. Kedua, mitos ukuran. Dunia lama mengukur seniman dari angka: laku, followers, masuk museum. Perempuan datang dengan meteran lain: kejujuran, ketekunan, empati, keberanian malu, tanggung jawab. Karya bukan soal ego, tapi jembatan.
Jika Anda sempat mengintip pameran ini, Anda akan bertemu satu karya yang tak bisa dilewatkan: _Zirah Kesadaran_, 2026, serangkaian instalasi karya Kana Fuddy Prakoso , perupa Jakarta kelahiran Kudus.
Karya ini konon diinspirasi tokoh perempuan masa lampau, Ratu Sima. Ratu pemimpin yang adil dan bijaksana di pantai utara Jawa Tengah. Nama yang jarang muncul di buku sejarah arus utama, tapi hidup di ingatan lisan. Kana mengambil ruh itu: kepemimpinan yang melindungi, ketegasan yang tidak menindas. Lalu ia jahit ulang dalam bahasa hari ini: zirah. Bukan besi, bukan emas. Melainkan kardus.
Gagasan menggunakan media kardus muncul karena begitu akrab dengan kehidupan kesehariannya. Kana tinggal di dekat Pasar Puring, Jakarta, yang menjual barang bekas. Setiap hari ia melihat tumpukan kardus: bekas kiriman, bekas hidup orang, bekas kota. Dari tumpukan yang dianggap sampah itu, ia mulai berpikir. Kardus bisa jadi lukisan. Bisa jadi patung. Bisa jadi zirah. Di tangan Kana, yang biasa dibuang berubah jadi pernyataan.
Pemilihan media kardus bukan sekadar estetika, kata Kana , konon ada tiga kelebihan yang membuat medium ini penting, apalagi di tengah kehidupan urban.
Pertama, jujur dan dekat Kardus adalah kulit kota. Ia membungkus belanja daring, pindahan kos, dagangan pasar. Memakainya berarti membawa denyut jalanan masuk ke galeri. Karya jadi tidak mengawang. Ia menapak di tanah yang sama dengan penontonnya.
Kedua, lentur tapi tangguh Kardus bisa dilipat, diukir, dilapis, disusun jadi struktur. Ringan dibawa, murah didapat, tapi sanggup menopang bentuk besar. Untuk seniman yang bekerja di kota yang mahal, kardus adalah kemerdekaan. Batasan bujet tidak membunuh ide.
Ketiga, ekologis dan etis Mengolah kardus bekas berarti memotong rantai sampah. Di Jakarta, tumpukan kardus adalah pemandangan harian. Mengubahnya jadi karya berarti memberi usia kedua pada benda, sekaligus mengajak penonton menimbang ulang: apa yang kita buang, sebenarnya masih bisa bicara?
Di _Zirah Kesadaran_, Kana merangkai lembar-lembar itu jadi lapisan pelindung. Ada lekuk yang rapuh, ada sambungan yang sengaja diekspos. Zirah ini tidak menutupi luka. Ia memamerkan bekas lipatan, bekas lakban, bekas perjalanan. Seperti Ratu Sima yang adil karena tahu sakitnya rakyat, zirah ini bijak karena mengakui kerentanan.
Hidup urban sering dituduh menjauhkan kita dari alam, dari sunyi, dari bahan “alami”. Tapi Kana membalik logika itu. Kota justru memberi kamus visual yang tak habis: tumpukan kardus, pola stiker paket, jejak air di permukaan cokelatnya. Kana terbiasa berimajinasi sehingga selalu terbersit gagasan yang sering di luar dugaan. Dari Pasar Puring, ia belajar bahwa ide tidak turun dari langit. Ide naik dari trotoar.
Inilah seni perempuan urban hari ini. Tidak menunggu kanvas impor. Tidak menunggu waktu luang. Ia mengambil yang ada, mengolah yang terbuang, dan menaruh makna di atasnya. Zirah kardus Kana bicara tentang tekanan hidup modern yang instan, tentang relasi kekuatan dan kerentanan, tentang kesadaran diri yang harus ditempa tiap hari. Persis seperti hidup di kota: keras, cepat, tapi kalau mau, bisa tetap waras.
April Mop kejutan _On The Map_ bukan sekadar pameran. Ia arsip. Ia penanda bahwa 12 perempuan, termasuk Kana, sedang menggambar ulang peta seni Indonesia. Dari Galeri Nasional, mereka bicara ke Kartini, ke Jakarta yang berulang tahun ke-499, ke kita yang menonton.
Zirah dari kardus itu mengingatkan: melindungi diri hari ini tidak selalu dengan besi. Kadang cukup dengan sadar. Sadar dari mana bahan kita, untuk siapa karya kita, dan luka mana yang mau kita rawat. Seperti Ratu Sima di pantai utara berabad lalu, seperti Kana di Pasar Puring hari ini.
Keluar dari galeri, Anda akan melihat kardus di pinggir jalan dengan mata berbeda. Bukan sampah. Tapi potensi zirah. Dan mungkin, potensi Anda sendiri.
Silahkan kunjungi Pameran On The Map Art, Science, Technology & Culture, di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Tentunya sambil menikmati kejutan di bulan Kartinian.
Penulis: (Yaksa Agus)
———–
[Rakyat.id]

