Cuangki melakukan perlawanan, menanyakan keadilan untuk hak berjalan di tanah dan berjalan kaki. Tak pernah sampai tujuan, untuk memulai lalu mencari ujung penjuru arah di negeri kaya raya.
Ketiak sudah basah, kaki berkeringat, dengan rasa peluh, ingin pulang tak ada tempat yang bernama rumah. Hanya bilik lipat bernuansa bambu, bernuansa tradisi.
Apalagi sekarang ini, punya tanah sedikit hanya untuk berselojoran saja, menikmati kopi bersama singkong rebus. Membangun, membuat baik akan dikenakan biaya tinggi. Ini bukan hanya bicara tentang nasib pribadi, tetapi dirasakan sama bagi beberapa orang lain di jaman sekarang.
Sifat dasar alami dari “CUANGKI” menyatukan rasa ikan, daging, tepung tapioka dan penyedap rasa. Dengan kuah kaldu sebagai pengugah seleranya. Apakah kaki ini akan kena pajak tinggi untuk Menapak di jalan rumah bernilai tapak ?.
Kaki tapak akan memilih jalannya sendiri bagi arah tujuannya, seperti hak milik tanah yang sebelum ada perjanjian untuk kenaikan ekonomi harga terkini, sudah mereka punyai sebagai hak kepemilikan.
Apabila anda resah terhadap permintaan , tawar menawar, produksi perumahan atau penjualan, jangan dibebankan kepada saya si “CUANGKI” di rumah saya kaki tapak ini akan menjelajah kemanapun, tidak perlu membayar.
Apakah kelak Kaki pribadi saya akan dapat dikenakan denda seperti bermain monopoly. Kepintararan membawa petaka dalam cara pandang hidup bersosial. Melihat sesuatu hal besar dalam ember air, lalu berpikir sama semuanya sama dalam posisi ekonomi.
Seperti memindahkan ‘Cuanki” KEDALAM ISTANA KEMAPANAN, tentunya mau saja. Terimakasih, tetapi siapa yang akan berikan.
Kalau gratis seharusnya sangat bisa, di negara pekerja jalan kaki ini terlihat kaya raya oleh sumber daya alamnya. Ketidakmampuan anda menyenangkan para pekerja jalan kaki adalah kesalahan akademik.
Kemana saja pola pikirnya, memberikan hal terbaik bagi orang-orang berkurang itu sangat mudah tidak perlu lama mencari solusinya.
BUKAN mereka harus membayar lebih banyak ekonomi dari pada anda yang punya segalanya, mungkin RUMAH IMPIAN sudah dimiliki lebih dari satu UNIT. Tetapi kami tidak akan pernah bisa mendapatkan rumah tersebut, MIMPI DI SIANG BOLONG.
Baru saja pulas tertidur, sudah ada kwitansi pembayaran. Kepemilikan, kemampuan, keberuntungan dan kepintaran merupakan berkah tetapi membuat kesulitan daripada khalayak hidup orang banyak demi kesuksesan pribadi itu merupakan kebodohan.
JELAS CUANGKI, memikirkannya saja rumit apalagi memilikinya. Lalu bagaimana nasib perumahan tempat tinggal kemudian ?.
Tanpa debat, memiliki perumahan untuk hidup bersama keluarga, pribadi dan status, merupakan hal lebih. Tidak semua pribadi bisa mendapatkanya dengan mudah.
Apalagi akan ditambahkan pajak kemudian. “Padahal hidup di negeri kaya raya”.
Berikan keuangan mandiri, terpadu, kesejahteraan lalu kepercayaan. Baru mereka akan berbicara membangun rumah. Keinginan tinggal di rumah berlapis legit, “Tentunya menjadi impian” ternyata kini hanya bertambah beban pikiran.
Sebaiknya ambil langkah kembali untuk menapak kaki ini kemanapun arah tujuan terdekat dan lantas tertidur di tempat mencari lelah. Asal jangan kami dibawa ketika sedang istirahat di gubuk bambu. Lalu Angkat kami ke tempat peristirahatan terakhir dan tawarkan pajak kematian.
Aroma bau cuangki tertutup oleh selera lapar korupsi.
Penulis : [MoC]
[Rakyat.id]