Jaman Komunisme 1931
|

Sejarah Jaman Komunisme 1931 -1935 | Cara Masyarakat Dapat Makanan

Helo ! Semoga dalam keadaan sehat, hidup, mempunyai akal pikiran, kebebasan , bertindak dan berpendapat.

Cara masyarakat mendapatkan makanan dan keperluan hidup di Jaman Komunisme 1931 sangat bergantung pada sistem distribusi terpusat (perencanaan sentral), kartu jatah (ration cards), antrean panjang, dan sering kali pasar gelap. Negara mengendalikan produksi dan distribusi hampir semua barang.

Jaman Komunisme 1931

 

1. Sistem Kartu Jatah (Rationing) – Metode Utama

Uni Soviet: Rationing diterapkan di masa sulit (1931–1935, Perang Dunia II, dan akhir 1980-an–1990-an). Warga punya kartu jatah untuk roti, gula, minyak, daging, mentega, dll. Jatah berbeda berdasarkan kategori:
Pekerja pabrik/prioritas (pekerja industri berat) mendapat porsi lebih besar.
Pegawai kantor dan tanggungan (istri/anak) mendapat lebih sedikit.
Anak kecil dan lansia punya kategori sendiri.

Polandia & Eropa Timur: Kartu jatah (kartki) untuk daging (misalnya 2,5 kg/bulan), gula, tepung, sabun, rokok, bahkan sepatu. Barang sangat terbatas.

China era Mao (Great Leap Forward): Sistem jatah ketat di kota. Petani di pedesaan sering kehilangan hak karena hasil panen diambil negara untuk ekspor/industri. Komunal dapur (communal kitchens) pernah dipakai, tapi gagal dan menyebabkan kelaparan massal.Barang dibeli di toko negara (Gosmag di Soviet atau toko serba ada) dengan harga murah tapi sering kosong.

2. Antrean (Queueing) – Bagian Sehari-hari

Orang antre berjam-jam bahkan berhari-hari untuk daging, roti, atau barang impor.

Strategi umum:
Satu orang antre, yang lain bergantian.
Istri atau nenek yang antre sementara suami kerja.
“Antre untuk teman” atau pakai koneksi.
Di era akhir Soviet (1980-an), antrean jadi simbol kekurangan kronis. Toko sering hanya punya satu jenis barang.

 

3. Sumber Lain Selain Toko Negara

Pasar kolkhoz (pasar petani): Di Soviet, petani boleh jual surplus dari kebun kecil mereka dengan harga lebih tinggi. Ini sumber utama buah, sayur, dan daging segar (meski mahal).
Pasar gelap (black market): Barang langka dibeli dari “spekulan” dengan harga berkali-kali lipat. Risiko ditangkap, tapi sangat umum.

Paket khusus dari tempat kerja: Pabrik atau kantor besar sering bagi paket makanan (daging, sosis, mentega) sebagai insentif.
Kebun pribadi (dacha di Soviet): Banyak keluarga punya kebun kecil untuk tanam sayur, kentang, dan ternak ayam — ini penyelamat utama.
Impor dari blok komunis: Barang dari negara lain di Pakta Warsawa, tapi tetap terbatas.

 

4. Perbedaan Antara Kota & Desa

Kota: Prioritas lebih tinggi untuk jatah (karena industrialisasi). Tapi antrean lebih panjang.
Desa: Petani sering lebih menderita karena hasil panen diambil negara (kuota wajib). Di China Great Leap Forward, jutaan petani kelaparan karena ini.

 

5. Keperluan Hidup Lain (Pakaian, Sabun, dll.)

Sama seperti makanan: Kartu jatah, stok terbatas, kualitas rendah.
Pakaian dan sepatu sering jelek dan hanya satu model.
Barang mewah (TV, mobil, kulkas) butuh antre bertahun-tahun atau koneksi partai (blat di Soviet).

Dekade Transformasi Perjalanan Indonesia Selama 10 Tahun dalam Politik, Sosial, dan Budaya

 

Kesimpulan:

Masyarakat biasa mendapat kebutuhan dasar melalui sistem jatah negara + antrean + usaha sendiri (kebun/pasar gelap). Tidak ada kelaparan massal di masa “normal” (setelah 1950-an di Soviet), tapi kekurangan kronis dan frustrasi tinggi. Elite partai dan pekerja prioritas hidup jauh lebih baik. Sistem ini efisien untuk distribusi dasar tapi gagal memenuhi kebutuhan variasi dan kualitas.

Sumber: [dariberbagaisumber]
————-
[rakyat.id]

Untuk anda