Mereka semuanya lahir di wilayah Papua dan wafat setelah kemerdekaan.
Berikut adalah daftar lengkap pahlawan nasional dari Papua beserta profil singkat, kontribusi utama, dan penghargaan yang diterima. Saya menyusunnya dalam tabel untuk kemudahan pembacaan:
|
No.
|
Nama Pahlawan
|
Tempat & Tahun Lahir
|
Tahun Wafat
|
Kontribusi Utama dalam Kemajuan Negeri
|
|---|---|---|---|---|
|
1
|
Frans Kaisiepo
|
Wardo, Biak (10 Okt 1921)
|
1979
|
Mewakili Papua di Konferensi Malino (1946) untuk pembentukan RIS; mengusulkan nama “Irian” (berarti “tanah beruap” dalam bahasa Biak); orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Papua; Gubernur pertama Irian Barat (1964-1973) yang menyukseskan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) untuk integrasi penuh ke NKRI. Namanya diabadikan di Bandara Frans Kaisiepo, Biak, dan potretnya ada di uang Rp10.000.
|
|
2
|
Silas Papare
|
Serui, Yapen Waropen (18 Des 1918)
|
1994
|
Pendiri Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) dan Badan Perjuangan Irian (1949); delegasi Soekarno di Perjanjian New York (1962) yang mengembalikan Irian Barat ke Indonesia; pejuang anti-kolonial yang dipenjara Belanda. Namanya diabadikan di KRI Silas Papare (386).
|
|
3
|
Marthen Indey
|
Doromena, Fakfak (14 Mar 1912)
|
1986
|
Mantan polisi Belanda yang memberontak pada 1945 untuk protes rencana pemisahan Irian Barat; anggota MPRS (1963-1968) dan Kontrolir Residen Jayapura; dipenjara di Digul selama 3 tahun karena nasionalisme.
|
|
4
|
Johannes Abraham Dimara
|
Korem, Biak Utara (16 Apr 1920)
|
2000
|
Mayor TNI yang memimpin perlawanan bersenjata di Biak (1945) dan menjadi delegasi Trikora (1961-1962) untuk pembebasan Irian Barat; anggota DPA RI (1959-1965). Namanya diabadikan di Pangkalan Udara Dimara, Merauke.
|
|
5
|
Machmud Singgirei Rumagesan
|
Fakfak (27 Des 1885)
|
1952
|
Raja muda Fakfak yang memimpin Gerakan Revolusioner Irian Barat dan Organisasi Pemuda Cendrawasih Muda; mendukung integrasi Papua ke RI melalui diplomasi dan perlawanan terhadap Belanda; dipenjara karena aktivisme.
|
Dampak Keseluruhan Perjuangan MerekaPara pahlawan ini tidak hanya memperjuangkan kemerdekaan fisik, tetapi juga membangun fondasi persatuan nasional di wilayah timur yang rawan disintegrasi. Kontribusi mereka melalui Konferensi Malino, Trikora, Perjanjian New York, dan Pepera memastikan Papua menjadi bagian integral NKRI pada 1 Mei 1963, yang membuka jalan bagi pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi di Papua. Semangat mereka menginspirasi generasi muda Papua untuk menjaga keutuhan bangsa, meski tantangan seperti isu otonomi masih ada.