Surat Dari Penjara (3

Surat dari Penjara (3-tamat)

Surat dari Penjara (3

 

Pagi datang muram. Cahaya pucat menyelinap lewat jeruji, menyingkap debu yang melayang di udara.

Bang Herman mengetuk palang besi.

“Bangun. Makan.”
Aku membuka mata pelan. Tubuhku sakit semua.

Dia menyodorkan bungkus nasi kertas.

“Dari siapa?”
“Dapur. Kau pikir siapa lagi?”

Nasi dingin. Ikan asin keras seperti batu. Tapi aku makan juga.

Aku menulis lagi. Dengan arang pendek yang hampir habis.

“Nisa, kau pasti sudah lupa padaku. Atau mungkin kau sengaja melupakanku. Itu adil. Kau tak perlu menunggu. Kau tak perlu mengenang. Yang perlu kau lakukan hanya satu: hidup.”

Aku berhenti. Tangan gemetar.

“Aku ingin kau hidup. Itu saja. Biar aku yang jadi ingatan busuk yang dikubur di sel ini.”

Aku merobek kertas jadi dua. Satu bagian aku lipat rapat. Satu lagi aku bakar dengan korek pinjaman Bang Herman.

Abu beterbangan ke luar jeruji.

Siang itu, seorang pengacara datang. Relawan. Muda. Bersemangat.

“Mas Andi, kami dengar kasusmu. Kami mau bantu ajukan penangguhan.”
“Untuk apa?”
“Supaya bebas.”
“Dan kalau aku bebas?”
Pengacara itu bingung.
“Aku tetap tak bisa menolong dia.”

Dia menatapku lama.

“Kalau Mas Andi di luar, setidaknya bisa bersuara lagi.”
“Suara itu tidak mengenyangkan orang lapar.”

Dia terdiam. Tapi dia tak marah.

“Kalau mau menolak bantuan, itu hak Mas. Tapi saya tetap mau coba. Tanda tangan di sini.”

Aku menandatangani. Bukan karena percaya. Tapi karena lelah.

Beberapa minggu berlalu. Bang Herman bilang aku lebih pendiam.

“Kau dulu cerewet. Sekarang seperti mayat.”
Aku hanya mengangguk.

Kadang aku ingat senyum tipis Nisa. Suara marahnya saat menawar di pasar. Cara ia menepis tanganku waktu aku ingin membantu membawakan keranjang.

Semua itu menempel di otak, seperti karat.

Suatu sore, aku dipanggil keluar.

Bang Herman membuka pintu sel.

“Keluar. Pengacara mau ketemu.”

Aku jalan terpincang.

Di ruangan sempit itu pengacaraku duduk dengan berkas di tangan.

“Kabar baik, Mas. Kita dapat penangguhan. Mas bisa keluar minggu depan.”
Aku menatap kosong.
“Lalu?”
“Lalu pulang.”
“Ke mana?”
“Ke rumah.”
“Rumah yang mana?”

Dia terdiam.

“Saya mau jujur,” lanjutnya. “Soal Nisa. Saya coba cari kabarnya.”
Aku menegang.
“Dia sudah pindah. Katanya ke kota lain.”
“Sendiri?”
“Dengan anaknya.”
“Bagus.”

Aku menunduk. Air mataku menetes tanpa suara.

Aku menulis untuk terakhir kali malam itu.

“Nisa, kalau kau membaca ini entah bagaimana, kumohon jangan balas. Kau berhak pada hidup yang layak, bahkan kalau itu artinya melupakan aku.”

“Aku menulis untukmu seperti orang bodoh. Tapi itulah satu-satunya yang kupunya. Sekarang pun aku hanya bisa menulis kata: maaf.”

“Hiduplah. Itu saja.”

Aku menaruh kertas itu di kantong celana. Kertas kumal, penuh noda arang. Tapi itu yang paling jujur.

Seminggu kemudian aku keluar. Langit biru, panas, ramai. Orang berteriak, motor melaju kencang, klakson bersahutan.

Aku menunduk. Merasa asing.

Bang Herman menepuk bahuku saat melepas borgol.

“Hati-hati di luar.”
“Ya.”
“Jangan masuk lagi.”
Aku tersenyum kecut.
“Kalau aku menulis lagi, mungkin aku balik ke sini.”
“Gila kau.”

Kami tertawa tipis.

Aku berjalan pulang—atau ke tempat yang kusebut pulang.

Di trotoar kulihat seorang ibu muda menuntun anak. Wajah mereka bukan wajah Nisa. Tapi aku terpaku. Mengingat.

Aku merogoh saku. Mengeluarkan kertas lusuh itu. Kubaca sekali lagi.

“Hiduplah.”

Lalu aku robek. Kecil-kecil. Kulepas ke angin.

Potongan itu melayang, menari di udara panas kota, lalu jatuh di selokan.

Aku berjalan lagi.
Tanpa membawa apa-apa.
Kecuali ingatan.

TAMAT

BACA JUGA : surat-dari-penjara-2

Untuk anda