Sebuah pameran tunggal karya Ugo Untoro, bertajuk “Sakramen Hujan: Melukis Rintik yang Menolak Kering”, adalah sebuah pengalaman seni yang mendalam dan mengagumkan.

Dengan karya-karyanya yang memukau dan pesan yang terkandung, Ugo mengajak kita untuk memahami kehidupan sebagai sebuah perjalanan yang terus mengalir dan menolak stagnasi.
Pameran ini dikawal oleh penulis Sudjud Dartanto, menampilkan puluhan karya Ugo, yang sebagian besar dibuat pada tahun 2025 dengan medium cat minyak di kanvas. Karya-karyanya menunjukkan keberanian dalam eksplorasi dan penghayatan terhadap dunia simbolis. Ukuran karya-karyanya yang bervariasi, dengan banyak di antaranya berdimensi besar, memungkinkan penonton untuk terlibat secara fisik dan emosional.
Ugo Untoro, perupa kelahiran Purbalingga, 1970, menemukan inspirasi dalam objek-objek sederhana di sekitarnya, seperti teras, meja, dan kamar. Ia mengubah yang lumrah menjadi sesuatu yang mendalam dan bermakna. Dengan demikian, karya-karyanya menjadi refleksi dari kehidupan sehari-hari yang kita jalani.
Melalui pameran ini, Ugo mengajak kita untuk memahami kehidupan sebagai sebuah perjalanan yang terus mengalir dan menolak stagnasi. Ia menunjukkan bahwa inspirasi dapat ditemukan dalam hal-hal sederhana dan bahwa kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber kreativitas yang tak habis-habisnya.
Sakramen Hujan :
Sebagai perupa dengan latar belakang pendidikan seni lukis di FSR ISI Yogyakarta, Ugo Untoro lewat pameran tunggalnya kali ini, merupakan semacam laporan sebuah perjalanan mendalam untuk memahami jiwa manusia dan kehidupan sehari-hari. Melalui karya-karyanya, Ugo menunjukkan penyerahan diri total pada proses kreatif, mempercayai bahwa dalam melukis, seseorang pasti bertahan karena ada “sisi manusianya yang besar”.
Karya-karya Ugo dapat dilihat sebagai manifestasi dari romantisme, sebuah gerakan seni dan filosofi yang menekankan emosi, individualisme, dan keindahan dalam hal-hal yang tidak sempurna. Ugo mencari keintiman dan otentisitas dalam kehidupan sehari-hari, mengangkat objek-objek sederhana menjadi sesuatu yang mendalam dan bermakna.
Perupa yang dijuluki “Presiden Seni Rupa”, Ugo menempatkan dirinya dalam keadaan sublim dengan objek-objek yang bermakna pada kehidupan dirinya. Konsep sublim ini dapat dipahami dalam konteks filsafat Immanuel Kant, di mana pengalaman sublim adalah pengalaman akan sesuatu yang melampaui pemahaman rasional, yang membangkitkan rasa takjub dan kekaguman.
Judul-judul karya Ugo bukan sekadar label, melainkan pintu gerbang menuju lapisan makna yang lebih dalam. Judul-judul seperti “Di Tengah Hujan”, “Hujan Lagi”, dan “Pagi Basah, Kamar Gelisah” menunjukkan bagaimana Ugo menggunakan hujan sebagai motif sentral, bukan sekadar fenomena meteorologi, melainkan sebuah entitas yang sarat makna.
Dalam pameran tunggal ini, Ugo mencoba menghadirkan eksplorasi estetika yang berbeda dari apa yang selama ini ia lakukan. Dimana hampir seluruh karya juga dibuat di kampung halamannya, Purbalingga, kampung halaman dengan segala kenangan masa kecil hingga remaja.
Tajuk Melukis Rintik yang Menolak Kering dipilih karena sang seniman memang menyukai hujan sejak lama. Dia kerap melukis saat hujan, serta mengibaratkan hujan sebagai tangisan dan kepedihan dari bumi dan isinya
Seri domestik hadir dalam karya Ugo, seperti “Di Rumah Tetangga”, dan “Mangkok”, menunjukkan bagaimana Ugo mengangkat objek-objek sederhana menjadi sesuatu yang mendalam dan bermakna.
Karya-karya ini merupakan ide untuk keseharian, memperlihatkan keindahan dalam hal-hal yang biasa.
Pameran tunggal Ugo Untoro merupakan sebuah pengalaman seni yang mendalam dan mengagumkan. Melalui karya-karyanya, Ugo menunjukkan penyerahan diri total pada proses kreatif, mempercayai bahwa dalam melukis, seseorang pasti bertahan karena ada “sisi manusianya yang besar”.
Karya-karyanya merupakan manifestasi dari romantisme, menunjukkan keintiman dan otentisitas dalam kehidupan sehari-hari.
Berteduh di Bawah Payung Narasi:
Ada sesuatu yang menarik dari pembahasan Sudjud Dartanto, sebagai penulis dalam pameran Ugo Kali ini. Sudjud dalam tulisannya cukup mendalam dan analitis, menunjukkan pemahaman yang kuat tentang karya seni Ugo Untoro dan konteksnya dalam sejarah seni dan filsafat.
Penulis dengan leluasa mengaitkan karya Ugo dengan berbagai konsep dan teori, seperti romantisme, sublim, fenomenologi, dan eksistensialisme.
Sudjud dengan cermat mengulas dengan detail tentang karya Ugo Untoro sangat objektif dan analitis, menunjukkan kemampuan untuk melihat karya seni dari berbagai sudut pandang. Penulis tidak hanya memuji karya Ugo, tetapi juga memberikan analisis yang mendalam tentang tema, teknik, dan makna yang terkandung dalam karya-karyanya.
Di sini Sudjud menunjukkan keintiman dengan Ugo, tampak bagaimana Sudjud dalam pembacaannya akan konstruksi garis yang tak terduga dalam lukisan Ugo Untoro, seperti dalam lukisan “Bapak Telpon”, yang dapat menjadi potret intim dan menangkap momen kerentanan atau kehangatan dalam komunikasi jarak jauh.
Sangat menarik ketika Sudjud memaparkan tentang fenomenologi dan eksistensialisme, dan bagaimana konsep-konsep ini terkait dengan karya Ugo Untoro. Sudjud melalui tulisannya mengajak kita bersama-sama menikmati hujan dibawah payung untuk ikut merasakan, mengalami, dan terlibat secara personal dengan objek dan tema yang ia hadirkan.
Perupa yang identik dengan kuda ini, tentu bukan sekedar menjadi seniman yang hanya sibuk dalam studio, ada sesuatu yang menarik untuk dicermati pemikiran dan perjalanan kariernya selama ini.
Tentu banyak pameran yang telah di ikuti, tetapi ada karyanya yang layak kita apresiasi dengan takzim, yaitu Museum Dan Tanah Liat ( MdTL ), sebuah ruang alternatif yang diberikan untuk para generasi muda untuk menggelar pameran untuk mempresentasikan karya mereka kepada publik.
Selain itu, Ugo bersama kawan kawannya menggagas sekolah vokasi untuk belajar melukis, yang bernama L ASRY, yang bercita-cita dikembangkan semacam akademi seni yang berbasis komunitas.
Untuk mengapresiasi karya-karya dalam Pameran Tunggal Ugo Untoro, bisa kita saksikan di NADI Gallery , Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5 Puri Indah, Jakarta, tanggal 24 Juli sampai 24 Agustus 2024 mendatang.
Penulis : [YAKSA AGUS]
” Penulis yang fitrah sesungguhnya pelukis” – Yaksa-
[Rakyat if]

