Cute Vacation | Sumbul Pranov

Grace | Cute Vacation
Pameran tunggal bagi seniman, bukan hanya sekadar keberanian, tetapi juga sebagai ajang untuk menunjukkan pencapaian etos kerja.
Sebagai seorang perupa, nama Sumbul Pranov tentu tidak asing bagi publik seni rupa kita. Perupa kelahiran 7 Februari 1975, sekaligus alumni FSR ISI Yogyakarta, membuat sebuah hentakan dengan menggelar pameran tunggal perdana, dengan tajuk besar Cute Vacation yang digelar di Jogja Gallery, 24 Mei-9 Juni 2025.
Mengapa tema Cute Vacation diambil, maka jawaban dari Sumbul adalah “Karena tamasya membuat bahagia”. Tak salah memang. Tasmasya memang membuat kita rileks, sejenak lepas dari keriuhan pekerjaan.
Tamasya membangkitkan hormon kebahagiaan, seperti dopamin, serotonin, dan endorfin.
Dalam teori Psikologi Positif Martin Seligman, rekreasi atau tamasya dapat meningkatkan pengalaman positif, meningkatkan kekuatan dan kemampuan individu, dan juga meningkatkan hubungan sosial yang positif.
Sehingga, selepas kembali beraktifitas rutin, kita akan merasa segar dan siap menghadapi rutinitas kembali.
Sumbul lahir di sebuah kawasan di tepi barat puncak Merapi. Sebuah kawasan yang indah, sejuk dan penuh kedamaian.
Setiap pagi kabut dan udara dingin membuatnya bergerak agar tidak kedinginan. Ketika Merapi mengalami erupsi, awan panas dan debu Merapi juga mendidiknya untuk bergerak cepat menyelamatkan diri dan menyesuaikan diri dengan kehidupan.
Oleh orang tuanya, dia diberi nama Sumbul, sebuah kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna atau arti ‘wadah bekal’–teriring doa agar menjadi manusia yang selalu siap dengan bekal baik secara lahir maupun batin, dan hari ini Sumbul mencoba membuka dan menyajikan bekal bekal yang selama ini menemaninya dalam perjalanan keseniannya, dan dirangkai menjadi sebuah pameran tunggal.
Hal yang menarik untuk kita apresiasi dari Sumbul adalah karya seninya dan kosmologi, di mana vacation atau petualangan heningnya dalam pencarian diri akan gagasan menuju bahasa perupaannya.
Di sana ada petualangan menuju ketenangan batin yang mampu masuk dalam bilik rasa. Bentuk rupa yang dihadirkan nyaris tak bernama, dengan wujud baru yang perlu kita identifikasi bersama, mungkin saja setiap kata lewat tulisan ini tidak mampu dengan detail menjamah imajinasinya.
Pencarian bentuk untuk karya patungnya cukup panjang, dan semua tak lepas dari kedekatannya dengan patung-patung batu di kawasan Muntilan hingga Borobudur. Boleh dikata, karya-karyanya yang dirangkai dalam pameran tunggal ini, tak lepas dari pengalaman itu. Hal ini bisa dilihat dari karya patung sebelumnya, dengan deformasi sederhana, hingga berkembang dan menemukan bentuk yang begitu khas.
Bisa dikatakan ini adalah ‘Gaya Personal’ seorang Sumbul Pranov. Ide dari karyanya ini cukup sederhana, katanya, yakni rangkaian pengalaman yang dimulai ketika mengerjakan proyek relief untuk Museum Diponegoro dan Museum Sonobudaya–yang ia pikirkan adalah bagaimana membuat patung yang terasa seperti relief, kemudian beberapa kali mengerjakan patung untuk taman rekreasi buatan, mulai dari Semarang, Jakarta dan Jabodetabek, hingga Kalimantan.
Baginya, mengerjakan patung pesanan adalah bagian dari proses eksplorasi yang menarik.
Apabila kita perhatikan dengan seksama, beberapa patung Sumbul mengambil bentuk dari orang-orang atau objek-objek yang dekat dengan dirinya.
Dengan mengambil objek-objek atau orang-orang yang dekat dengannya, di samping ada kepuasan tersendiri, Sumbul akan lebih mampu menghadirkannya dengan ekspresif, karena kedekatan emosional, akan lebih mudah membuatnya untuk lebih komunikatif dengan para audien.
Jebakan Perangkap Kiwari
Sosok perempuan tambun, tubuh gemuk, dan pipi tembam dengan tangan terlentang rambut kribo tertiup angin, wajah berbinar bahagia, sambil berteriak melepaskan segala rupa kesumpekan; teriakannya laksana melantunkan sebuah lagu dengan penuh penghayatan, dan itu ditunjukkan dengan notasi nada berbentuk not balok. Demikian visual patung karya Sumbul apabila dilihat dari depan, dan begitu pipih jika dilihat dari samping, yang menggambarkan seorang perempuan yang tengah bertamasya.

Cute Vacation | Sumbul
Bentuk patung- patung Sumbul ini mengingatkan kita pada Wayang Klithik, atau semacam wayang kulit tapi terbuat dari kayu; atau Menongan, hiasan-hiasan semacam bentuk figur manusia dan binatang yang terbuat dari kayu dan diwarna dengan motif motif.
Jika meminjam kata kontemporer, melalui patung-patung Sumbul ini memudahkan kita sedikit memahami gagasan yang menjadi ‘bekal’nya selama ini.
Sumbul dalam memainkan gagasannya tak terikat aturan atau pakem tentang seni patung yang selama ini dipelajari di kampusnya, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.
Kali ini kita sebagai audien atau apresiator diajak Sumbul untuk tamasya, semacam wisata artistik estetik ke dalam visualisasi dari ilusi-ilusi yang divisualisasikan menjadi serangkaian karya tiga dimensi dalam pameran tunggal ini.
Dengan harapan sejenak meninggalkan kesibukan sehari-hari dan melakukan perjalanan untuk menikmati keindahan alam, budaya, dan kehidupan. Akan tetapi Sumbul cukup sadar, di mana sebuah karya patung dapat meningkatkan kesadaran estetika masyarakat dan membuat mereka lebih menghargai keindahan.
Karya karya Sumbul, dalam pameran ini setidaknya dapat ada upaya menciptakan atmosfer yang unik dan ikonik. Sumbul juga hadir dengan kesadaran fungsi Simbolik, ada upaya memancing kita untuk mengungkapkan makna dan pesan yang ingin disampaikan.
Tubuh tambun dengan dilengkapi banyak tas, wadah minum, kamera, menunjukan gairah bertamasya. ‘Amazing Grace’, judul karya ini, sengaja meminjam sebuah lagu rohani yang sangat populer.
Sumbul mencoba mengajak audien untuk ber-Tamasya, akan tetapi bukan sekadar perjalanan wisata yang hanya sepintas lalu untuk melepas lelah, refreshing, dan mendapat kenangan bahagia.
Tetapi jauh ke dalam semacam wisata batiniah.
Apakah sepotong syair lagu Amazing Grace ini rasanya tepat untuk memaknai wisata hati ala Sumbul, juga menjadi tempat Sumbul menceritakan tentang kasih karunia Allah yang telah menjaga keselamatan dalam perjalanan kariernya sebagai seniman?.
Amazing grace, how sweet the sound
That saved a wretch like me
I once was lost, but now I’m found
Was blind, but now I see.
Melalui karya tersebut, Sumbul berupaya mencoba untuk untuk menghormati sebuah sosok figur yang dihormati (tetapi bukan sosok tokoh-tokoh penting terkenal) dan membuat sosok-sosok tersebut dikenang dalam hidupnya, yakni meminjam wajah istrinya.
Melalui Amazing Grace, Sumbul mencoba untuk mengajak kita untuk mengingat akan peristiwa-peristiwa, dan membuat orang lebih menghargai sejarah dirinya.
Dari karya Amazing Grace ini, kemudian dibuat salinan tetapi dengan ukuran lebih kecil. Melalui versi kecil ini, Sumbul kemudian mengajak lima belas seniman untuk berkolaborasi. Patung dengan lengan terbuka, seakan adalah upaya Sumbul menyapa para sahabat.
Menerima dengan tangan terbuka, seolah siap memberikan pelukan. Tentu menjadi menarik, ketika karya ini justru hadir secara kolaboratif, sebagai bentuk persentuhan sosial. Setiap seniman akan merespon karya patung karya Sumbul. Ada poin menarik dan cukup mencuri atensi dari gagasan kolaborasi ini, yang tidak sekedar melulu fokus pada karya bersama.
Sumbul membuat surat semacam MoU untuk proyek kolaborasi ini, dan MoU tersebut turut pula dihadirkan dalam pameran ini.
Ada yang menarik dari pernyataan Sumbul bahwa, menjadi seniman di Yogyakarta tentu saja harus eksis dan sukses dalam berkomunitas, belajar terus-menerus, juga membangun relasi sosial, dan jika ingin mendapatkan materi lebih, harus berani berjuang ke kota lain, seperti Jakarta atau luar negeri.
Kematangan Sumbul dalam persentuhan sosial dan juga perjalanan kariernya tidak bisa dilepaskan dari Kelompok Tenggara–sebagai komunitas yang telah membuka dan mengantar pada sebuah kesadaran akan profesi pilihannya menjadi seorang seniman–patung-patungnya menjadi tumbuh berkembang, terkesan tidak sekadar tampak modern tanpa adanya sekat pembatas.
Meski demikian, patung-patung karya Sumbul tetap terasa memiliki ciri khas atau orisinalitas sebagai ‘karya Sumbul Pranov’.
Ke-otentik-an karya-karya Sumbul dalam pameran ini harus kita apresiasi dengan tepuk tangan.
Dengan membawa bekal artistik dan estetiknya dalam serangkaian karya patungnya, orisinalitas atau gaya personalnya hadir dengan permainan bentuk dan pengembangan dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, dengan deformasi yang khas dan orisinal seorang Sumbul.
Secara keseluruhan yang ditampilkan Sumbul dari pameran ini menampilkan figur manusia dan binatang yang bentuknya dimainkan secara personal.
Patung-patung Sumbul bisa dikategorikan dalam seni kontemporer yang tak terbatas pada aturan tertentu sehingga bisa dibuat mengikuti perkembangan zaman.
Selain itu, filosofi yang terkandung dalam seni kontemporer acap kali juga unik serta menarik. Dalam era seni kontemporer saat ini, seni patung memiliki kedudukan yang sangat penting dalam perkembangan seni internasional. Seni patung kontemporer telah berkembang menjadi bentuk seni yang sangat beragam dan dinamis, mencakup berbagai teknik, bahan, dan tema.
Dalam konteks postmodernisme, seni patung kontemporer telah mengalami transformasi yang signifikan, menolak prinsip-prinsip kemajuan mutlak dan pencarian bentuk yang sempurna yang menjadi ciri khas gerakan modernis.
Sebagai gantinya, seni patung kontemporer telah mengadopsi pendekatan yang lebih plural, ironis, dan kritik, mencampurkan berbagai elemen visual dan kultural untuk menciptakan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga penuh makna simbolis dan kritik sosial.
Simbolisasi dan kritik sosial ini salah satunya dimunculkan melalui karya ‘One Heart One Journey’ yang mengambil bentuk motor Vespa dengan sentuhan modifikasi. Meskipun Vespa itu sudah dimodif, namun masih memiliki fungsi sebagai kendaraan.
Vespa oleh Sumbul disulapnya menjadi bentuk sebuah karya seni tiga dimensi–yang boleh jadi akan memberi ide atau inspirasi penggemar otomotif.
Ketertarikannya pada Vespa bukan sekadar kebentukan atau eksotisnya kisah Vespa, dan komunitasnya pecintanya yang dikenal dengan sikap sosial dan solidaritasnya yang tinggi, akan tetapi serangkaian karya Vespa ini adalah bagian dari kerinduannya pada motor-motor Vespa miliknya yang bertahun-tahun tidak pulang, karena dipinjam kawannya, sementara motor Vespa miliknya itu, baginya, begitu penuh kenangan yang telah menemani perjalanan hidupnya sekian lama.
Di samping romantisasinya, Sumbul menghadirkan Vespa ini juga sebagai pengingat bagi kita bahwa kendaraan bermotor adalah salah satu penyumbang polusi udara saat ini, maka dari itu kita harus bijak dalam penggunaannya.
Dari konsep-konsep yang disajikan Sumbul melalui patung-patungnya, “secara” dalam persentuhan perkembangan seni kontemporer/hari ini/mutakhir/kiwari/terkini telah menjadi bagian integral dari perkembangan seni internasional, mencerminkan keragaman perspektif, kompleksitas sosial, dan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang identitas, budaya, dan sejarah.
Bersambung …
Penulis : [Yaksa Agus]