Anusapati | Rahasia Eden

by rfq
1 comment 646 views
Anusapati | Rahasia Eden

Anusapati & Rahasia Eden 

Selamat Sore Kak, Tiket untuk berapa orang?”

Sapaan syahdu menggoda dari penjaga tiket di perhelatan Artjog 2025 kali ini, dengan mengangkat tema besar “Amalan“.

Anusapati | Rahasia Eden

Begitu masuk, kita akan disambut sebuah instalasi berjudul “Secret of Eden” karya Anusapati yang berkolaborasi dengan Tony Maryana.

Instalasi adalah citraan dari amalan si seniman, di mana karya ini hadir dengan memanfaatkan batang pohon dan akarnya yang sudah mati sebagai material utama.

Serangkaian karya ini adalah respon atas isu krisis lingkungan dan mencoba menjembatani kesadaran ekologis dengan praktik seni.

Anusapati mencoba membawa kesadaran kita untuk melihat pohon dari ujung akar hingga ujung ranting, dengan suasana tambang yang lengkap dengan rel dan lori pengangkut hasil tambang di antara akar yang menggantung.

Ini adalah sebuah kritik terhadap praktik manusia yang seringkali mengabaikan kesadaran ekologis dan hanya memikirkan keuntungan semata
Melihat akar-akar terjuntai, akar pohon dapat dianggap sebagai media komunikasi, khususnya melalui jaringan mikoriza.

Art Jog

Jaringan jamur bawah tanah ini menghubungkan akar-akar pohon, memungkinkan mereka untuk berbagi nutrisi, air, dan informasi penting seperti ancaman hama atau kekurangan air.

Kita akan diajak melihat sistem berkomunikasi melalui jaringan jamur mikoriza yang tumbuh di sekitar dan di dalam akar mereka. Melalui jaringan ini, pohon dapat saling berbagi gula, nutrisi, air, dan bahkan sinyal kimia atau listrik untuk meningkatkan pertahanan mereka. Ketiika kita tersadar bahwa pohon-pohon itu telah mati karena pertambangan, kita akan merasakan bagaimana sinyal yang dikirimkan melalui jaringan mikoriza dapat memberi tahu pohon lain tentang bahaya yang mendekat.

Di antara pohon mati kita juga tak melihat drama serangan hama. Tetapi yang terjadi justru kerumanan penontonlah seperti serbuan hama-hama penghancur itu.

Di lantai atas, kita seperti tersesat dalam landscape pemandangan kekeringan, nglangut, dan satir. Drama kerusakan hutan, kita nyaris tak merasakan pohon-pohon itu untuk mempersiapkan diri untuk melawan kerakusan-kerakusan yang mengancam untuk menghancurkan habitat hutan.

Melalui tema besar “Amalan” kita diajak untuk membaca ulang praktik artistik dan fungsi dari karya seni, selain memuat nilai estetika.

Apakah karya yang sarat akan kritik dengan nuansa prores yang terbungkus dalam kemegahan perhelatan pameran Artjog ini?.

Benarkah Hutan adalah rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Apakah karya Anusapati sekadar ilustrasi tentang narasi hutan rusak, banyak spesies yang kehilangan habitatnya dan dapat menyebabkan kepunahan.

Di hamparan pepohonan kering, kita, penonton akan sekadar manggut-manggut saat didongengkan tentang sebuah hutan yang berperan penting dalam siklus air, yaitu menyerap dan menyimpan air hujan.

Ketika hutan rusak, dapat menyebabkan banjir dan kekeringan. Jangan-jangan hutan yang berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen adalah sebuah mitos.

Lalu ketika hutan dirusak dengan alasan sebuah pengolahan sumber daya alam, haruskah dengan memproduksi peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer dan memperburuk perubahan iklim.

Anusapati

Keanekaragaman hayati, yaitu variasi kehidupan di bumi, termasuk tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Lingkungan tempat spesies hidup dan berkembang. Proses peredaran air di bumi, yaitu evaporasi, kondensasi, dan presipitasi. Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), sekitar 13 juta hektar hutan hilang setiap tahunnya akibat deforestasi dan degradasi hutan.

Dari karya Secret of Eden kita sejenak diajak merenung tentang kerusakan hutan dapat menyebabkan kehilangan biodiversitas yang signifikan, dengan perkiraan bahwa sekitar 80% spesies yang hidup di bumi tinggal di hutan musnah.

Melalui teks Hendro Wiyanto, kurator ArtJog 2025, makna Amalan pada tema ini tidak hanya terbatas pada definisi kamus yang menekankan ‘klise’ pahala, melainkan sebuah laku praksis seniman sebagai subjek aktif pada konteks estetika, sosial, politik, dan sebagainya.

Jika merujuk kata amalan “Amalan” dalam bahasa Indonesia memiliki arti “perbuatan” atau “tindakan” yang baik, seperti amal ibadah, amal saleh, atau perbuatan baik lainnya. Kata Amalan serapan dari bahasa Arab, yaitu “amal” yang berarti “perbuatan” atau “tindakan”.

Dalam konteks ini, karya-karya seni di ArtJog 2025 tentu saja dirancang untuk bisa berdialog ke pengunjung, setidaknya setiap Amalan: Perbuatan dan Tindakan setiap seniman dalam pameran ini mampu memberi pendedahan secara artistik dan estetik. Pertama masuk ruang pameran JNM , “Secret of Eden “, sebuah amalan perupa Anusapati, kita diajak memahami bagaimana seni dapat digunakan untuk mengkritik praktik manusia yang merusak lingkungan dan membuka wawasan kesadaran ekologis.

Dengan menggunakan material alami yang dicengkeram oleh material industrial, dengan seting suasana instalasi yang interaktif.

Anusapati mengajak serta memaksa dengan teror melalui gagasannya, setidaknya dapat membuat pengunjung berpikir tentang amalan kita sendiri.

Bagaimana kita semua sebagai penonton, apakah mampu berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Tetapi amalan Anusapati, tentu sebuah kritik terhadap praktik manusia yang seringkali mengabaikan kesadaran ekologis dan hanya memikirkan keuntungan semata.

Ini sejalan dengan tema “Amalan” yang mengajak pengunjung untuk berpikir tentang nilai, makna, dan jejak amalan manusia dalam semesta.

Semacam sebuah teror lewat karya Anusapati, terasa cukup menyedot energi dan pikiran kita sebagai pengunjung. Ini semacam kekuatan pameran tunggalnya terdahulu yang bertajuk “Matereality” tahun 2012 silam. Sehingga, saat melihat dan mengapresiasi secara mendalam pada karya lainnya di perhelatan Artjog semua jadi tampak wow, walaupun terasa hanya sepintas lalu. Artinya, untuk perlu waktu untuk datang ke pameran ini lagi untuk menyimak amalan yang di dalam gedung JNM.

Karya ini semacam pameran tunggal, di mana apresian bisa lebih serius mengapresiasi dan pelan-pelan mampu memahami maksud dari karya ini.

Pada sebuah diskusi tahun 2012 silam, saya pernah bertanya,

Apakah pohon-pohon yang tidak produktif atau pohon mati yang diambil sebagai bahan untuk karyanya, ada jaminan bisa bertahan lama?” .

Anusapati menerangkan bahwa dirinya sebagai seniman dan sekaligus sebagai pengajar seni rupa, tentu harus bertanggung jawab atas karyanya.

Sebagai seniman yang lahir di tengah budaya Jawa, ilmu pengetahuan leluhur digunakan untuk memilih kayu dengan perhitungan pasaran dan titi mangsa, artinya jika kita mengambil kayu dari pohon yang masih hidup, agar tidak mudah dimakan rayap atau lapuk dimakan jamur, ada perhitungan waktu hari, bulan, dan kapan waktu yang baik untuk mengambil kayu, semua ada perhitungan waktu yang tepar.

Mari kita telusuri karier seorang seniman patung terkemuka yang berasal dari Yogyakarta ini. Anusapati dikenal karena karyanya yang kuat dalam seni patung, khususnya patung kayu, serta keterlibatannya dalam dunia pendidikan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sejak masih mahasiswa Anusapati sudah mulai aktif pameran, hingga memasuki akhhir 1980 an , ia mulai menapaki even pameran dalam ajang pameran seni rupa internasional dan dikenal sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam sejarah seni patung Indonesia.

Anusapati dikenal sebagai pematung yang karyanya banyak menggunakan material kayu, termasuk potongan, ranting, dan limbah kayu. Ia juga menggunakan material perunggu dalam beberapa karyanya, namun tetap menunjukkan keterikatan pada tema lingkungan.

Selain sebagai seniman, Anusapati adalah dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dan bahkan mencapai jabatan profesor sebelum pensiun pada tahun 2022.

Jalan kesenian yang ditempuh dan partisipasinya dalam berbagai pameran seni internasional, termasuk Biennale IX Jakarta, India Triennalle VII, Johannesburg Biennale, Asia-Pacific Triennale of Contemporary Art, dan Venice Biennale. Perjalanan karier Anusapati, di antaranya pernah meraih penghargaan sebagai Karya Terbaik dalam Biennale IX Jakarta (1993) dan Karya Terbaik dalam Indonesia Sculpture Triennale (1996).
Dalam berkarya, Anusapati dikenal dengan pendekatannya yang menghormati sifat alami material, terutama kayu.

Ia seringkali membiarkan retakan atau kerusakan pada kayu tetap terlihat dalam karyanya, menjadikannya bagian dari keindahan karya.

Tema-tema lingkungan seringkali menjadi fokus dalam karya-karya Anusapati, mencerminkan kepeduliannya terhadap isu ekologi .

Pantas saja jika karya instalasi “POHON | KAYU” yang ditampilkan dalam ARTJOG 2025, setidaknya menjadi bagian kisah untuk mengulik karya seniman satu ini.

Jika pernah melihat patung-patung publik seperti “I Gusti Ngurah Rai” di Bandara Ngurah Rai Bali, “Bhagawad Gita” di Pantai Nusa Dua Bali, dan “Semangat Pemuda” di Bengkulu, adalah karya patung dari seniman Anusapati.

Bukan hanya dikenal sebagai seniman dengan pendekatannya yang anti-formatif, seringkali mempertanyakan bentuk-bentuk normatif objek dalam karya-karyanya, seperti yang terlihat dalam dalam perhelatan Art Jog 2025 saat ini.

Tetapi satir dan lucu saat mendengar pendapat anak anak muda yang saya tanya saat keluar dari pintu keluar pameran ini.

Sambil membantu anak-anak muda untuk memotret mereka berfoto , saya bertanya apa pendapatnya tentang karya-karya yang dipamerkan.

Jawaban beberapa orang hampir sama ” Bagus-bagus lah.., tapi kurang faham juga sih.”

Penulis: Yaksa Agus


[rakyat.id]

 

You may also like

Comments are closed.

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website. Silahkan enable adblocker anda untuk tetapmendukung Suara Kami Tetap Independen