Martabak “Manis , Ramah. Tapi gak
nembak-nembak”.
Martabak, melakukan kesatuan terhadap rasa dasar yaitu Manis, ramah, tapi gak nembak-nembak. Pernah kondisi situasi sulit untuk
bergerak menjadi bagian dalam kesatuan, komunitas, persamaan dan juga dalam ide gagasan. Tetapi karena sesuatu hal yang tidak
diketahui sebab-akibatnya akan menjadi masalah kronis pada persatuan lingkungan terdekat yaitu tetangga dan warga.
MARTABAK bersikap mengolah adonan permasalahan menjadi enak dimakan bersama, saling membagi tugas, tanpa ego besar di dalam kepala, ringan tangan dan tentunya cara bersikap.
Kepemimpinan dalam tetangga, terasa sumringah menjadi persaudaraan apabila dilandasi atas kepentingan & kebutuhan khalayak umum, peduli terhadap kesatuan unit dan yang paling terjelas adalah keamanan. Pada lingkungan hidup bermainnya.
Tanpa hal itu semuanya, kepentingan tidak akan menjadi kekuatan benteng bersama, tetapi membuat pagar berduri bagi siapapun dalam
memberikan jangkauan kebersamaan.
Menjadi MARTABAK YANG TAK AKAN PERNAH NEMBAK, jelas sekali terlihat perlawanannya karena tumpul dan tak mempunyai amunisi berpikir terkait kebersamaan.
Ramuan sederhana menjadi martabak, kembali kepada susunan peringkat makanan terenak, idola, lalu mengajak partisipasi mereka untuk memahami, mendengarkan dan ambil keputusan.
Terkadang rasa martabak perlu selera bagi para penggemarnya. Lingkungan, tetangga, privasi dan juga informasi akan menjadi titik temu kembali apabila mereka saling membutuhkan satu sama lainnya.
Tidak bisa dipisahkan, persatuan, duduk bersama, mungkin suatu ketika akan kembali keputaran keinginan bersama, menaruh adonan, membuat racikan, menambahkan selera & menyantap ria kudapan tersebut.
Masyarakat Martabak, merupakan kumpulan personal yang perlu dibentuk, dipupuk , disiram oleh kesatuan persaudaraan.
Terkadang masalah datang, solusi, perselisihan dan rasa tak ingin peduli pada apapun.
Tanpa debat, wilayah martabak merupakan kesempatan bagi siapapun, penghuni yang tinggal dalam waktu cukup lama. Kemunduran akan datang degan kemajuan apabila kelompok mulai paham akan pentingnya racikan rasa.
Mau tidak mau , kehidupan dalam loyang panas harus terus terisi, ada sesuatu yang perlu dimasak dalam wajan.
Martabak akan menemukan sendiri adonan sejati rasa tambahannya dalam bertetangga di lingkungannya berada.
Semoga.
Penulis : [MoC]
[Rakyat.id]

