Kamu Berdiri Di Atas Kepalaku

  • Whatsapp
Img 20260516 213550
Oplus_16908288

Surat ini untukmu Tuan

Bagaimana kabarmu dengan segala pemandangan dari atas langit, apa saja kamu lihat ?.

Sibuk, sering berpergian entah kemana, berbuat apa, membawa apa untuk kami ?

Kamu lihat bagaimana orang utan itu mati atau melintas dengan jembatan seutas tali ?.

Kamu melihat peternak babi sedang memberi panganan kepada ternaknya ?.

Kamu melihat hutan terpotong habis oleh nomor-nomor identitas pemiliknya ?.

Kamu melihat gaya hidup para tikus – tikus penguasa ? .

18 Bulan entah apa yang sedang kamu perbuat untuk kami ?.

Menjaga tetap lurus, tidak berkhianat kepada amandemen merupakan kewajiban mutlak bagi seluruh warga dunia yang berdaulat bagi bangsanya. Banyak pengaruh ingin berubah demi kepentingan jahat, menguasai hak, memperoleh keuntungan pribadi dan keluarga.

Apakah itu salah,mereka bertanya ?.

Perencanaan buruk bagi masa depan warga merupakan kejahatan perilaku, bertindak dan terencana. Mereka hanya berbicara, menuliskannya dalam bingkai kehancuran untuk warga lemah, miskin, tak berhak menikmati hidup berbangsa.

Penguasaan hak serta kewajiban sudah diatur kemudian jauh hari sebelum waktunya untuk berkuasa datang. Hati bertambah resah menatap tanggal setelah 18 bulan terlewati gelap, sunyi, mencekam, berteriak sakit, terpenjarakan oleh ketakutan dalam sikap, berkeputusan dan berkumpul terbuka tanpa mata-mata, kode-kode lalu senyap.

Informasi menjadi sangat penting, pengetahuan , perbedaan, merupakan sisa kepingan kebahagiaan milik manusia sejak lahir. Apalagi ditambahkan dengan keahlian ilmu olah jiwa, bisa menjadi benteng terakhir, melawan, melompat dam memberi tendangan telak, mengenai penyerang ketika sehabis pulang berkegiatan dalam diskusi malam.

Air keras, wanita, uang, kebijakan, posisi elite, tawaran, merupakan bujukan agar berhenti dalam bertindak melakukan pembangkangan, lalu berkomplot bersama di dalam lingkaran, mengungkapkan keinginan menghabiskan bangsanya sendiri, kemudian lalu warga dan mati berserakan di tanah, hutan, bukit ataupun sungai yang menjadi tempat kelahirannya.

Menyampaikan salam hangat dengan target personal, mempunyai pengikut dan visioner terhadap negeri. Setiap katanya akan menjerumuskan dalam kegelapan, ancaman, teror dan kematian dengan pesan kepala yang terpenggal.

Rombongan besar, tua, ilmu politik lama, aturan baru, ancaman dan kekuatan masa, serta rencana pembodohan, pemiskinan, pendidikan, seperti proses jaman dahulu, sudah teruji tetapi akan gagal kemudian.

Lalu ?.

Warga dunia pemilik negeri, atas nama kemanusiaan merupakan idealnya manusia bersinggungan dengan manusia lainnya. Tetap saling berhubungan, melindungi, bergerak , menjaga , kasih sayang dan berbagi.

Sekeras apapun rencana kehancuran, pembodohan, perampasan tidak sebanding dengan darah juang para warga dunia ini melintas batas ruang garis lurus leluhurnya. Kekuatan kerja keras, jujur, ramah tamah dan menghormati leluhur adalah senjata tajam tersisa.

Hanya ketajaman ketika terlepas dari ketidakmampuan bertahan dalam cengkeraman kebijakan , keputusan, ketetapan, keadilan ataupun keberpihakan yang tak berbanding dengan rasa persamaan.

Jangan bunuh kami dengan janji, setitik tinta, karakter, identitas palsu, ketenaran sesat, pura – pura bergembira, coretan karakter, ramah tamah dan berpihak kepada warga.

Pemilik negeri semakin sulit percaya akan hal tersebut. Perlu menjadi catatan bagi para penguasa negeri, ini bukanlah akhir dari penderitaan.

Para bangsa akan menjadi saksi hidup, terdengar suara walaupun kematian menjadi ancaman. Catatan dunia maya, keluhan emosional, raut wajah, canda tawa , ejekan untuk para penipu pembantu pemilik negeri. Jaman akan menyisakan generasi hebat , tak selalu diam tidak bergerak.

Putaran angin tornado akan bertambah banyak, dengan angin kategori ringan, sedang dan bergulung terus menyapu badai di tempat anda sedang berak menghitung laba kerakusan negeri ini.

Pesta akan berakhir

Gelas -gelas tidak akan kembali berdenting

Alun-alun kota dan desa akan di penuhi oleh para pemilik negeri.

Melihat kecurangan, kejahatan, ketidakadilan, kerakusan terpanggang dalam luapan emosi

Lalu sejarah akan berbalik menuliskan kelam bagi pembantu-pembantu negeri yang berkhianat.

Hikayat para pendongeng akan mendengungkan di perjalanannya tentang kejahatan masa lalu, kini dan entah sampai kapan.

Merdeka untuk manusia seutuhnya.

——
Sumber: [tulisandariatassepeda]”

Pos terkait