Merasakan “mendoan” Memendam rindu tak bisa bertemu.
Tidak hanya dirasakan ketika kesedihan, kesenangan dan ingin berjumpa. Semua perasaan itu akan tiba-tiba datang tak kenal keberadaan , kondisi, situasi dan kepentingan. Hanya datang ke dalam hati, lalu air mata tak terasa membasahi pipi. Rindu juga memberikan doa terbaiknya, harapan , impian baru , menggugah ingatan akan
kenangan lalu, juga terbaru, kebodohan dan petualangan. Tak bisa menjadi berbeda ketika “Mendoan” hanya melukiskan kepalsuan,
hiasan perasaan, kebohongan terencana. Pastinya rasa rindu tak pernah bisa teracuni. Rindu akan terpapar residu memabukan, oleh rempah-rempah “Alami” menjadikan semua komponen lengkap menjadi “Mendoan” tidak digoreng dadakan.
Sifat alami dari “Mendoan’Mendem kangen ora keturutan terletak pada racikan pengetahuan kehidupan serta bagaimana kita mengenal produk rasa cinta yang tak hanya timbul ketika hari kasih sayang tiba. Rasa “Mendoan” itu merupakan bumbu lami yang hanya bisa kalian temukan sendiri perbedaannya kepada pasangan kita. Banyak type “Mendoan” terlihat dalam beragam skenario perjalanan berpasangan, itu merupakan proses bagaimana aku mencarinya, membauinya, merasakan kecocokan harapan, rencana baru dan gagasan. Sehingga pada waktunya nanti “Mendoan” tidak hanya menjadi cerita tidur tetapi merupakan pilihan rasa.
Sifat dasar alami “MENDOAN” merupakan proses memasak yang biasa dilakukan dengan menggorengnya menjadi setengah matang, tidak sampai menjadi matang. Bahan baku dipilih yaitu kacang kedelai , setelah sempurna dipotong menjadi segi empat.
Kita akan mendapatkan potongan lembaran-lembaran tempe. Bahan alami dari tempe lalu dibaluri dengan tepung, potongan daun bawang, untuk ukuran kurang lebih tiga inci. “Mendoan” melakukan perlawanan. Ketika badan kita memiliki alergi kedelai. Hal ini akan menjadikan masalah pada sistem kerja tiroid. Jadi kita harus lebih mengenal diri sendiri terlebih dahulu sebelum memulai untuk bermimpi “Mendoan” akan datang pada kehidupan anda.
Tidak menjadi rahasia umum lagi “Mendoan” tak terlihat, teraba dan tergelitik. Seperti bayangan mimpi membuat anda tersenyum sendiri membaca layar , menghampiri isi kepala anda lalu memutuskan isi kata. Menjadikan keinginan untuk segera terwujud, ingin cepat menerima, tersampaikan lalu terhubung.
Apakah bisa”Mendoan” menjadi terancam, teralihkan, kepada benturan suasana berbeda terhadap suatu yang bersifat kepada status sosial,
kecemburuan, kualitas dan persamaan ?.
“MENDOAN’ tidak selalu ingin memendam rindu tak menentu. Tetapi juga menciptakan hal bertemu untuk rencana terbaru, loncatan jauh kedepan setelah kita melihat petualangan, sisi berbeda tentang lainnya, pengalaman berbagi dalam perjalanan singkat , kepatuhan terhadap gaya idealis. Semua akan terlihat jelas, hal tersebut merupakan penunjang, jembatan, penghubung rasa rindu ketika waktunya nanti akan menjadi kenyamanan, pupuk romantis kenangan, memelihara alur cerita , merawat LALU MEMBUAT “MENDOAN “MENJADI TERBARUKAN PENUH KUALITAS RASA.
Tidak hanya untuk sekejap saja, lalu pergi hilang tak kembali, tetapi ini merupakan kisah panjang untuk rindu generasi keberuntungan yang bertanggung jawab. Apabila merawat rindu dengan baik, semua hal tanggung jawab akan menjadi ketentuan jalan keluar yang ideal. Berani rindu adalah jawaban dari langkah selanjutnya, pada penglihatan batin untuk menentukan pilihan pada penglihatan “MENDOAN” berikutnya.
Berbunga-bunga tidak lagi hanya mimpi bertemu, tetapi ketika kita melihatnya pada aneka bunga, warna lalu tumbuh kembang ketika aku ingin menyentuhnya dalam “DOA”, kesunyian, keberkahan untuk memilikinya.
Tanpa debat, terkait “MENDOAN” Tidak mungkin hanya selalu menjadi setengah mateng untuk menyantapnya, terkadang banyak pilihan datang dalam daftar menu sajian. Kebebasan rasa akan menimbulkan bermacam rindu dan makna.
Aku rindu dengan berbagai macamkebangsaan, performance kebudayaan, perbedaan. Tidak hanya dalam kemasan rindu, tetapi tersebar dalam segala segi kehidupan disepanjang mata, jiwa, kasta, sosial yang terus menjadi pewaris kebersamaan tanpa melihat golongan, terluar ataupun terpinggirkan .
Semua berhak mendapatkan “mendoan” yang tak tertinggal kan , semua wajib menjadikan rindu itu terwujud dalam usaha berbeda-beda tetapi akhirnya akan berkumpul dalam wadah “mendoan’
di seluruh muka bumi ini.
Penulis : [MoC]

