Surealis & Realitas Nyata | In Memoriam Lucia Hartini

  • Whatsapp
Surealis &Amp; Realitas Nyata | In Memoriam Lucia Hartini
Surealis & Realitas Nyata | In Memoriam Lucia Hartini

SUREALIS DAN REALITAS NYATA
In memoriam Lucia Hartini

Lukisan yang cukup melekat dalam banyak ingatan publik seni kita “Payung Dua Ribu” karya Lucia Hartini. Karya ini adalah sebuah karya seni yang memuat sepenggal kegetiran hidup sang seniman. Diciptakan pada tahun 1996, lukisan ini merupakan refleksi dari pengalaman pahit Lucia Hartini yang dipamerkan di perhelatan Biennale Jogja 1997. Sebuah refleksi pengalaman hidup, kegagalan pernikahan, dan tantangan sebagai ibu tunggal yang sekaligus harus merangkap menjadi figur bapak untuk anak-anaknya.

Bacaan Lainnya
Img 20250828 102723
Lucia Hartini

Selain itu, di bawah patung kehidupan Mbak Tini harus tegar berdiri, memegang payung, bukan sekadar melindungi panas atau hujan. Hembusan angin yang seringkali menjadi godaan besar yang terasa akan membuat patungnya tersingkap, terkoyak atau terlepas.

Dalam lukisan ini, Mbak Tini menggambarkan tampak melukiskan dirinya dengan rambut panjang terurai dengan memegang payung yang terbuat dari pusaran awan. Payung itu dihiasi dengan empat planet luar angkasa yang bersemayam di pusaran awan.

Perempuan itu memalingkan wajahnya, sehingga tidak terlihat jelas rupanya. Melalui karya ini, Lucia mengungkapkan kerentanannya dan perasaannya tentang kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.

Lukisan “Payung Dua Ribu” ini mendapat perhatian dari Sindhunata, seorang penulis seni budaya menulis ulasan tentang karya ini di Harian Kompas pada tanggal 2 Februari 1997.

Screenshot 2025 08 28 10 18 12 92 6012Fa4D4Ddec268Fc5C7112Cbb265E7

Mbak Tini adalah perempuan dalam lukisan ini mewakili perempuan lain yang penuh penderitaan berat dalam memasuki abad baru. Pada saat itu, masyarakat sedang mengalami keresahan massal terkait pergantian milenium, dan lukisan ini menjadi refleksi dari kegelisahan.

Lucia Hartini, demikian nama yang begitu melegenda di dunia seni rupa Indonesia. Mbak Tini, nama panggilan para sahabat dekatnya, adalah seorang seniman yang karya-karyanya seringkali menggambarkan representasi dirinya dan alam kosmos. Warna-warna yang dipilih dalam lukisannya berkisar pada spektrum biru gelap, indigo, saphire, merah, dan coklat terbakar. Komposisi awan berulang, menggulung ataupun dengan garis tegas juga menjadi ciri khas dalam karya-karyanya.

Img 20250828 102657
Pelukis Lucia Hartini

Dalam lukisannya, Mbak Tini seringkali menggambarkan objek makrokosmos dan mikrokosmos dalam satu bidang. Planet, awan-awan, dan langit adalah contoh makrokosmos, sementara manusia berikut sifatnya adalah mikrokosmos. Dengan demikian, karya-karyanya menjadi representasi dari hubungan antara manusia dan alam semesta.

Karya-karya Lucia Hartini bisa digolongkan ke dalam veristic surrealism, sebuah pendekatan yang menekankan pentingnya menggambarkan alam bawah sadar sekonkret mungkin. Meskipun secara alami berkarya dalam gaya ini, Mbak Tini telah menciptakan karya-karya yang luar biasa dan mendapat pengakuan dari masyarakat seni.

Setiap kali bertemu Mbak Tini, belia sering kali bercerita tentang Om Eli. Sosok misterius dari langit, yang sering mengunjunginya saat lewat tengah malam. Saat gelisah, hati gundah tentang kehidupan, sosok sahabat imajiner ini hadir menemuinya. Om Eli, semacam alien dengan pesawat kecilnya kadang hanya melintas, saat Mbak Tini merenung di balkon rumahnya. “Jika Om Eli, melintas sejenak dan tersenyum sambil melambaikan tangan, rasane ning ati dadi tenang.”

Mbak Tini tiap melukis selalu malam hari, dan ini menjadi kebiasaan sejak tahun 1980. Karena siang hari untuk bekerja serabutan awalnya, juga mengurus anak-anak yang masih balita. Baru malam hari melukis hingga menjelang pagi.

“Hidup ini sudah surealis,” ucapan singkat itu yang saya ingat, awal kali wawancara untuk liputan tugas dari sekolah tahun 1992. Awalnya statemen singkat itu, saya kira semacam gurauan beliau. Tetapi di beberapa pameran, statemen itu menjadi semacam jendela untuk mengintip ruang imajinasinya. “Surealialis itu realita yang nyata, hanya tidak setiap orang bisa melukiskannya.”

Kisah tentang sosok imajiner yang disebutnya Om Eli, adalah bagian kecil dari kisah perjalanan Mbak Tini, yang begitu melekat dalam ingatan saya. Sosok yang dianggap selalu hadir dan setia menampung curahan hatinya, adalah cerita yang selalu saya tunggu tiap kali bertemu beliau.

Mbak Tini telah mengikuti sejumlah pameran besar di dalam dan luar negeri, termasuk Jakarta Biennale 1989 dan Contemporary Art of Non Aligned Countries di Galeri Nasional. Karya-karyanya juga telah dipamerkan di Jepang, Australia, dan Singapura, menunjukkan pengakuan internasional atas keseniannya.

Mbak Tini kita kenal, seorang seniman yang karya-karyanya seringkali dipenuhi dengan misteri dan simbolisme. Benda-benda langit seperti bulan atau planet-planet lain, pusaran air, awan, dan karang seringkali menjadi elemen penting dalam lukisannya. Karya-karyanya dapat dianggap sebagai representasi dari alam bawah sadar dan pengalaman hidupnya.

Blue Hole” adalah salah satu karya Lucia Hartini yang memuat simbolisme dan misteri. Dengan menggunakan warna-warna yang khas dan komposisi yang unik, Lucia Hartini menciptakan sebuah karya yang memikat dan mengundang tanya.

Gaya dan teknik yang digunakan oleh Lucia Hartini dalam karya-karyanya bukan sekadar unik dan memikat. Dengan menggunakan elemen-elemen alam dan simbolisme, Mbak Tini menciptakan karya-karya yang penuh dengan makna dan misteri. Goresan kuas kecilnya, satu persatu melukiskan deburan ombak laut, yang menghantam batu karang. Atau sapuan halus saat membentuk awan, menembus ruang angkasa dengan planet atau bulan dan bintang.

Tetapi, ada yang jauh lebih menjadi poin dari setiap karyanya, di sinilah setiap dihadapkan pada lukisannya, kita semacam sebuah novel dari gejolak batin mbak Tini

Surealisme adalah pembahasaan dari cara ungkap menggambarkan realitas mimpi yang nyata, namun tidak setiap orang mampu mengisahkannya. Mbak Tini lewat karyanya seringkali mengundang pertanyaan persoalan gender dan transformasi kehidupan sosial.

Dengan mengamati perubahan-perubahan antara kehidupan mbak Tini, proses kreatif, dan persentuhannya dalam perkembangan seni rupa kita, kita dapat memahami karya-karyanya dari kacamata sosial. Secara transformasi kekaryaan dengan persentuhan psikologi perbatasan, negosiasi, dan transendensi batas melalui studi tentang praktik spiritual.

Saya mengenal Mbak Tini awal 1990an, di mana karya-karyanya muncul dalam gesekan kondisi yang berlaku pada masa Orde Baru. Suasana perubahan situasi politik, sosial paska Reformasi 1998, diiringi pergeseran atau perkembangan budaya, hingga hari ini adalah poin-poin menarik yang terselip di antara karya-karyanya.

Karya-karya Mbak Tini, hadir dalam ketegangan yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan yang berlawanan dari represi politik dan transformasi sosial yang menjadi ciri khas Orde Baru Indonesia, tercermin dalam seni karyanya. Dalam arti mikrokosmos-makrokosmos, Mbak Tini dan lukisannya secara diam-diam berkontribusi sebagai sikap sosial yang justru menjadi penanda untuk perkembangan seni rupa hari ini.

Saya mengenalnya sewaktu saya masih sekolah di SMSR Yogyakarta. Dari sana, saya mulai mengikuti beberapa pameran yang diikuti beliau pada masa itu. Hingga menyaksikan pameran tunggalnya “BATAS ANTARA DUA SISI” tahun 1994 di Bentara Budaya Yogyakarta.

Salah satu karyanya yang menggambarkan pergeseran dari pergolakan batin pribadi yang tumbuh, diikuti oleh pertumbuhan spiritualitasnya sebagai pelukis adalah karya yang berjudul “SRI KANDI”.

Img 20250828 102623
Pelukis | Lucia Hartini

Karya ini terpampang di kediaman Butet Kertaradjasa, dikoleksi saat Lucia harus merampungkan rumahnya di sebelah SMSR. Lukisan itu tampak melukiskan dirinya, bagaimana menatap masa depan di antara mata-mata tajam yang memandangnya dengan bermacam-macam penilaian.

Dengan mengamati perubahan-perubahan antara kehidupan Lucia Hartini, proses kreatif, dan persentuhannya dalam perkembangan seni rupa kita, kita dapat memahami karya-karyanya dari kacamata sosial. Secara transformasi kekaryaan dengan persentuhan psikologi perbatasan, negosiasi, dan transendensi batas, yang disaksikan melalui studi tentang praktik spiritual dan pencarian toleransi agama yang penting bagi Lucia dan terlihat dalam seninya.

Dalam medan persentuhan antara seni rupa Indonesia, kita dapat menyimak karya Mbak Tini sebagai upaya untuk memecahkan masalah yang terkait dengan pembatasan kebebasan berekspresi dalam lukisan yang dibuat sebelum dan paska Reformasi. Karya-karya Lucia Hartini merupakan refleksi dari perjalanan hidupnya yang penuh dengan tantangan dan transformasi.

Melalui seni lukisnya, mbak Tini menggambarkan pengalaman pribadinya dalam persentuhan sosial dengan masyarakat sekitarnya. Seringkali karyanya mengundang pertanyaan tentang persoalan gender dan transformasi pribadi. Dengan demikian, karya-karyanya tidak hanya menjadi representasi dari realitas sosial, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kita untuk memahami dan menghargai keunikan dan kompleksitas manusia.

Dalam mengulik dan mengapresiasi karya-karya mbak Tini ,kita dapat memahami bahwa seni bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang pengalaman hidup dan refleksi diri.

Melalui karya-karyanya, Lucia Hartini telah membuktikan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan dan pengalaman manusia, serta menginspirasi kita untuk memahami dan menghargai keunikan dan kompleksitas manusia.

Img 20250828 102821
Pelukis | Lucia Hartini

Hari ini Lucia Hartini benar-benar Berpayung Kosmos bersama keabadian. Rabu, 27 Agustus 2025, jam 6.00 pagi, Mbak Tini dipanggil pulang ke sisi Yang Maha Indah. Diiringi langit mendung kelabu, dengan hembusan angin kemarau yang dingin, Kamis 28 Agustus 2025, Mbak Tini diantar khalayak yang mencintainya ke peristirahatan terakhir, Makam Seniman Giri Sapta, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Selamat istirahat dalam keabadian Mbak Lucia Hartini. Karya-karyamu akan terus menjadi inspirasi bagi kita untuk memahami dan menghargai keunikan dan kompleksitas manusia, serta mengapresiasi keindahan dan kekuatan seni dalam mengungkapkan pengalaman hidup manusia.

Yogyakarta, 28 Agustus 2025
Penulis : [Yaksa Agus @Yaksapedia]

Karya Lukisan : Lucia Hartini

*Wanita dan Payung

*Pusaran

*Payung 2000

*Blue Hole

*Sri Kandi


[Rakyat.id]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan