NOTASI | Sebuah Puzzle Ingatan Eko Rahmy.
Mengapresiasikan sebuah pameran tunggal karya perupa Eko Rahmy bertajuk Notasi Visual Metamorphic Colony di Galeri ZEN1, Jakarta, 4 – 20 Juli 2025.
Menjadi menarik jika kemudian kita menata kembali puzzle ingatan kita tentang karya karya perupa dari Sleman, Yogyakarta yang saat ini memasuki usia 60 tahun.
Sekedar mengambil ingatan dari pameran tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta, Februari 2013 silam yang bertajuk “Urgent”.
Kata Urgent yang berarti penting menjadi tema yang diangkat pada pameran tunggal seni lukis Eko Rahmy. Titik penting dari pameran itu adalah untuk menandai fase dalam karir kesenimanan Eko Rahmy yang telah sekian puluh tahun melanglang dalam dunia kesenirupaan di Yogyakarta.
Dalam konteks seni kontemporer, karya Eko Rahmy dapat dilihat, bagaimana seni lukis dapat menjadi media untuk meledakkan ekspresi lewat karya bercorak non representasional.
Dengan menggunakan elemen warna dan abstraksi bentuk, Eko Rahmy menciptakan karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga emosional dan naratif.
Penggunaan warna merah menyala sebagai warna latar dan garis-garis melengkung dan bersilangan dalam warna hitam menciptakan kontras yang kuat dan dinamis. Struktur garis-garis yang diisi dengan torehan kuas dalam komposisi warna yang lebih ringan menghasilkan bentuk-bentuk yang unik dan menarik.
Karya-karya Eko Rahmy juga menunjukkan bagaimana bentuk non representasional dapat memiliki narasi kebentukan yang kuat. Meskipun tidak sepenuhnya abstrak, karya karyanya sering kali menampilkan bentuk-bentuk yang mengesankan sosok hewan atau kumpulan bentuk yang mengesakan rimbunan pepohonan.
Dalam satu lukisan, berjudul “Tentang Laut ” kita melihat background merah seperti mendidihkan atmosfer psikis di sekitarnya.

Pada lukisan lain, langit hijau tua dan biru mendominasi ruang yang dipenuhi makhluk antropomorfik yang mengingatkan kita pada dunia mimpi,” mengutip tulisan Rizki A. Zaelani dalam teks kuratorialnya.
Apakah penggunaan warna yang menyala, kontras, dan nyaris meledak dalam kanvas menciptakan energi naratif yang hidup dalam karya lukis. Warna-warna yang digunakan Eko Rahmy tidak hanya menjadi latar atau aksen, tetapi menjadi bagian integral dari karya itu sendiri.
Lihat lukisan berjudul “Metamorphosis #1”, lalu bandingkan dengan karya yang berjudul “Koloni #1”

Dalam konteks seni kontemporer, karya Eko Rahmy dapat dilihat sebagai contoh bagaimana seni dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan emosi dan pengalaman pribadi.
Dengan menggunakan bentuk non representasional dan warna yang kuat, Eko Rahmy menciptakan karya-karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga emosional dan naratif.
Dalam analisis seni kontemporer, karya Eko Rahmy dapat dilihat sebagai contoh bagaimana lewat seni lukis dapat memainkan daya emosi dan pengalaman pribadi.
Bagaimana menciptakan narasi kebentukan yang kuat melalui bentuk nonrepresentasional.
Lihat penggunakan warna sebagai sarana untuk menciptakan energi naratif yang hidup Eko Rahmy nanpaj berhasil menggabungkan elemen representasional & non representasional dalam karya seni.

Karya-karya Eko Rahmy memiliki akar kuat dalam tradisi seni Yogyakarta, namun tetap mempertahankan inovasi dan keunikan yang membedakannya dari karya-karya lainnya.
Dengan gaya bahasa visual yang unik dengan memadukan elemen ekspresif dan formal, menciptakan karya-karya yang dinamis dan menarik.
Karya-karya Eko Rahmy menunjukkan pengaruh pengaruh dari kekhasan seni lukis yang berkembang di Yogyakarta era 1990an , namun tetap memiliki kekhasan yang membedakannya dan membuatnya relevan dalam konteks seni kontemporer.
Penulis : Yaksa Agus
Medsos : @Yaksapedia
[Rakyat.id]