Malam di sel sempit ini seperti rawa busuk—hitam, lembap, bau amis keringat bercampur sabun murahan. Di luar, hujan gerimis menetes lewat genteng bocor, menimpa lantai semen berlubang.
Aku duduk memeluk lutut. Bang Herman menyalakan rokoknya di lorong. Asapnya menyusup lewat jeruji, menyesakkan dada.
“Tidurlah, Andi,” katanya malas.
“Aku menulis.”
“Apa yang mau kau tulis di sini?”
“Surat.”
“Untuk siapa? Pengacara?”
Aku menggeleng.
“Untuk perempuan.”
Bang Herman terkekeh. “Kasihan amat. Di luar sana dia sudah lupa kau.”
Aku menunduk. Barangkali benar. Tapi menulis namanya saja sudah menenangkan.
“Nisa.”
Aku ingat saat terakhir menatap matanya dari luar sel. Dia sudah kurus sekali. Rambutnya dikepang seadanya, matanya cekung. Dia menoleh ke arahku hanya sebentar, sebelum ditarik petugas. Tak ada air mata. Hanya tatapan kosong, seakan berkata: “Aku sudah bilang, Andi. Jangan dekati aku. Dunia kita tak sama.”
Mereka menuduh dia mencuri beras di toko grosir. Padahal aku tahu: dia hanya menawar. Pedagang itu dendam padanya.
Aku coba bicara ke polisi. Dituduh menghalangi tugas negara.
Aku coba menulis ke media. Pak Bayu bahkan tidak membalas pesanku.
Sejak kecil aku tidak mengerti mengapa orang harus miskin. Ibuku bilang, “Begitulah dunia.”
Aku memberontak. Aku belajar. Masuk kampus dengan beasiswa. Menjadi wartawan. Menulis tentang ketidakadilan.
Orang-orang bilang aku idealis. Mereka kagum.
Tapi mereka hanya suka membaca derita selama jaraknya aman.
Ketika aku menulis tentang Nisa—tanpa hiasan, tanpa air mata bohongan—mereka tidak mau terbitkan.
“Orang mau harapan, Andi,” kata Pak Bayu.
“Kalau mau harapan, tulis dongeng,” kataku.
Itu hari terakhir aku bekerja di redaksi.
Setelah itu aku bekerja serabutan. Mengangkut kardus di gudang logistik. Mengecat pagar rumah orang. Mengantar air galon.
Aku sengaja mendekati hidup yang kotor. Ingin tahu rasanya. Ingin benar-benar menjadi bagian darinya.
Tapi aku sadar: aku hanya turis.
Ketika sakit, aku masih bisa mengemis pada teman lama untuk pinjam uang. Ketika lapar, aku masih bisa pulang ke rumah kontrakan dan rebus mie murah.
Nisa tak bisa. Baginya, gagal menawar berarti anaknya tak makan.
Suatu malam aku menemuinya lagi di pasar. Gerimis turun. Lampu jalan redup, becak berderit lewat, dan para pedagang menutup lapak.
Dia berdiri menunggu angkot. Keranjang kosong di tangan.
“Nisa,” panggilku.
Dia menoleh pelan.
“Kau lagi.”
“Aku ingin minta maaf.”
Dia diam. Air hujan menetes dari kerudung lusuhnya.
“Aku menulis tentangmu. Tapi aku tak pernah bisa menolongmu.”
Dia menarik napas.
“Kau kira aku minta ditolong?”
“Tidak. Tapi aku ingin bersamamu.”
Dia menatapku lama.
“Dan kalau aku mau? Kau bisa apa?”
Aku tak bisa menjawab.
Waktu itu aku tahu, dia benar.
Aku bisa menulis. Tapi aku tak bisa mengubah apa pun.
Aku coba cari cara membantunya. Aku buat petisi daring. Orang-orang menandatangani, tapi itu hanya simbol.
Aku datang ke kantor kelurahan. Pegawai di sana hanya tertawa.
“Mana buktinya dia tak mencuri?”
“Dia cuma miskin, Pak.”
“Justru itu.”
Aku marah. Aku maki-maki. Aku diusir.
Aku coba demo di taman kota. Membawa kardus dengan tulisan spidol: “Bebaskan Nisa!”
Orang-orang hanya menonton. Polisi datang.
“Bubar.”
“Ini hak saya!”
“Hak matamu. Tangkap!”
Mereka menarikku. Membantingku ke jalan.
Itulah kenapa aku di sini sekarang.
Aku menulis lagi pada kertas cokelat itu. Arang gosong menodai jariku.
“Nisa, aku tak bisa membebaskanmu. Aku bahkan tak bisa membebaskan diriku. Tapi aku ingin kau tahu: aku mencintaimu. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai penolong. Tapi sebagai orang kalah juga.”
Aku berhenti menulis.
Bang Herman mendekat ke jeruji.
“Sudah selesai?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku belum tahu ke mana surat ini akan kukirim.”
“Kasih aku. Biar aku bakar sekalian.”
Aku tertawa kecil. “Boleh.”
Malam itu aku tidur di lantai lembap, dengan kertas itu di dada.
Aku mimpi.
Kami duduk berdua di emperan pasar. Bau amis ikan asin menusuk hidung. Suara motor lewat. Nisa menatapku, bukan dengan cinta, tapi dengan pengertian.
“Andi, hidup ini tak pernah adil. Jangan pura-pura bisa membuatnya adil.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau tetap menulis?”
“Karena kalau berhenti, aku mati.”
Dia tersenyum tipis.
“Kau memang bukan untukku. Tapi kau juga bukan untuk mereka.”
Aku terbangun. Air hujan menetes lewat atap. Dingin menusuk tulang.
Bang Herman berdengkur di kursinya.
Aku menatap langit-langit kotor dan berbisik:
“Nisa, maafkan aku.”
> bersambung
Baca juga : surat-dari-penjara-1

