Petani garam tradisional di Desa Les Tejakula Buleleng, beberapa diantaranya masih mempertahankan cara tradisional untuk menghasilkan kristal-kristal garam yang berasal dari air laut.
Mereka sangat mengandalkan cuaca alam, tantangan terbesar adalah ketika musim hujan dan tidak ada cukup panas matahari untuk menguapkan air laut yang mengandung garam.
Pendapatan mereka turun drastis karena tidak bisa memproduksi garam.
Lalu apa solusi pemerintah Untuk Petani Garam ?.
Sejauh ini tidak ada.
Jadi para petani garam beralih profesi menjadi apa saja untuk menyambung hidupnya.
Ada yang menjadi tukang bangunan, jualan apa saja di pasar, atau apa pun itu.
Pagi itu saya membekukan moment Pak Nengah yang sedang bekerja bersama munculnya sang surya dari ufuk timur.
Garam Tejakula memang berbeda, menjadi andalan chef kelas dunia. Mereka menggunakan tanah untuk mendapatkan kandungan mineral dalam garamnya.
Garam laut Bali mengandung berbagai mineral, di antaranya:
Kalsium, yang baik untuk tulang dan gigi.
Magnesium, yang membantu mengatur proses biokimia dalam sistem metabolisme dan kardiovaskular.
Potasium, yang mendukung sistem saraf.
Zat besi dan yodium, yang membantu menstabilkan kondisi tubuh.
Sulfur, yang mendukung sistem imun tubuh dan detoksifikasi.
Garam laut mengandung banyak mineral karena tidak melalui proses kimia. Garam yang tidak melalui proses pengolahan kimia atau mekanis disebut garam non refinasi. Garam non refinasi sering dianggap lebih alami dan memiliki kandungan mineral yang lebih tinggi daripada garam yang telah melalui proses refinasi.
Semoga semangat Pak Nengah seiring mentari menular ke para pembaca.
Dan menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
Sumber & Foto : [Oyk]
[rakyat.id]



