Sejarah Forbidden City

by rfq
0 comments 223 views 2 minutes read
Forbidden City

Forbidden City, atau Kota Terlarang (Zijincheng dalam bahasa Mandarin), adalah kompleks istana kekaisaran di Beijing, China, yang menjadi simbol kekuasaan imperial selama lebih dari 500 tahun.

Pembangunannya dimulai pada tahun 1406 atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (Zhu Di), setelah ia merebut tahta melalui kudeta terhadap keponakannya.

Ibukota dipindahkan dari Nanjing ke Beijing untuk alasan strategis, dan konstruksi selesai pada 1420 dengan melibatkan sekitar satu juta pekerja paksa dan 100.000 pengrajin.

Kompleks ini mencakup lebih dari 720.000 meter persegi, dengan dinding setinggi 10 meter, parit selebar 52 meter, dan lebih dari 980 bangunan.


Dari 1420 hingga 1644, Forbidden City menjadi pusat pemerintahan Dinasti Ming, dihuni oleh 14 kaisar. Pada 1644, istana ini direbut oleh pemberontak Li Zicheng, tetapi segera jatuh ke tangan Dinasti Qing yang dipimpin oleh Manchu.

Qing melanjutkan penggunaannya sebagai istana hingga 1912, ketika Kaisar Puyi (kaisar terakhir China) digulingkan setelah Revolusi Xinhai. Selama periode ini, total 24 kaisar dari kedua dinasti tinggal di sana.

Nama “Forbidden” berasal dari akses yang sangat terbatas: hanya kaisar, keluarga imperial, dan pejabat tinggi yang boleh masuk, sementara rakyat biasa dilarang.

Setelah 1925, kompleks ini diubah menjadi Palace Museum, dan pada 1987 ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.


Desain Forbidden City

mengikuti prinsip kosmologi Konfusianisme, dengan tata letak simetris yang mencerminkan harmoni antara langit, bumi, dan manusia. Ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pusat ritual, politik, dan administrasi.

Meski menghadapi ancaman seperti kebakaran, invasi, dan perdebatan politik pasca-revolusi (termasuk rencana penghancuran oleh Partai Komunis pada 1949), istana ini bertahan hingga kini sebagai ikon sejarah China.


Fungsi Strategis bagi Kebutuhan Perdagangan.


Forbidden City bukanlah pusat perdagangan langsung seperti pelabuhan atau pasar, melainkan berfungsi sebagai pusat kekuasaan yang memengaruhi kebijakan ekonomi dan perdagangan secara strategis.

Pemindahan ibukota ke Beijing oleh Kaisar Yongle bersifat strategis untuk mengamankan perbatasan utara dari ancaman Mongol dan suku nomaden, yang secara tidak langsung mendukung stabilitas perdagangan internal dan eksternal.

Lokasi Beijing memungkinkan kontrol lebih baik atas rute perdagangan utara, termasuk Jalur Sutra, dan menghubungkan dengan Grand Canalโ€”saluran air sepanjang 1.100 mil yang dibangun ulang untuk mengangkut beras tribute dan barang dari selatan ke utara.

Ini memfasilitasi distribusi sumber daya, termasuk untuk kebutuhan imperial, dan mendukung ekonomi nasional.


Di dalam Forbidden City

, terdapat 27 workshop yang memproduksi barang mewah seperti porselen dan tekstil untuk istana, yang sering menjadi komoditas ekspor atau tribute.

Kaisar mengontrol perdagangan melalui kebijakan seperti Sistem Canton (untuk perdagangan dengan Barat), yang dipengaruhi oleh stabilitas politik di ibukota.

Namun, pada era akhir Ming dan Qing, faktor seperti perdagangan perak menyebabkan resesi ekonomi, yang memengaruhi fungsi istana sebagai regulator perdagangan.efc880 Secara keseluruhan, peran strategisnya lebih pada stabilitas politik yang mendukung perdagangan, daripada sebagai fasilitas perdagangan itu sendiri.

Sumber & Gambar : (SegalaSumber)


 

Forbidden City

You may also like

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website. Silahkan enable adblocker anda untuk tetapmendukung Suara Kami Tetap Independen