Surat dari Penjara (1)

Oleh RID
0 Komentar 103 views 4 minutes Baca

Angin pagi masuk dari celah jeruji, menusuk kulit seperti ingatan yang tak mau mati. Di atas lantai semen yang dingin dan berlumut, aku duduk bersila, menulis pada kertas cokelat yang kucuri dari ruang Bang Herman. Di sini, segalanya direnggut—kecuali kata-kata.

Aku menuliskan namanya perlahan, seakan takut mengusik ketenangan semesta:

“Nisa.”

Pernahkah kau jatuh cinta, kawan, pada seseorang yang tak mau menoleh kepadamu? Tapi dalam senyum tipisnya kau temukan satu-satunya makna dari hidup yang tak lebih dari abu?

Aku pernah.

Aku ingat pertama kali bertemu dia di tepi pasar. Aku menunggu ojek online. Dia menjinjing sekeranjang bayam layu yang dibelinya murah dari pedagang yang hendak pulang. Saat itulah aku memperhatikan matanya—tajam, letih, tapi jujur.

Aku bilang:

“Berat sekali tampaknya.”
Dia menjawab tanpa menoleh:
“Sudah biasa.”

Kalimatnya seperti tamparan. Membuatku sadar bahwa aku lelaki kota yang payah. Yang membaca buku, menulis di portal berita tentang keadilan sosial, tapi tak pernah tahu benar apa artinya menahan lapar.

Dia menoleh. Sekilas. Hanya itu. Tapi cukup untuk menanam sesuatu yang sukar tercabut.

Aku mengejarnya ke rumah kontrakannya. Bukan dengan langkah tergesa, melainkan dengan rajin membuat alasan. Suatu kali aku bilang aku ingin membeli bayam itu. Lain waktu aku pura-pura menanyakan arah ke kampung sebelah. Dia tahu, tentu saja. Tapi dia membiarkan.

“Kau wartawan?”
“Bisa dibilang.”
“Kau tulis kemiskinan orang-orang. Lalu apa? Kau bagi hasil penjualannya pada mereka?”
“Tidak.”
“Hm.”

Itulah cara dia meremukkan hatiku. Dengan kejujuran yang lebih tajam daripada pisau dapur.

Hari berikutnya aku memberanikan diri.

“Aku ingin menulis tentangmu.”
Dia menatapku lama.
“Aku bukan cerita menarik. Aku cuma orang susah. Tidak ada romantiknya.”
“Orang-orang perlu tahu.”
“Tahu untuk apa?”
“Supaya bisa berubah.”
Dia tertawa. Tipis. Bukan meremehkan. Lebih seperti putus asa.

“Berubah?” tanyanya. “Yang kenyang mau berubah?”

Aku tak bisa jawab. Tapi aku terus mencatat. Menulis setiap kata, setiap gerak, seakan menulis Injil baru.

Kami menjadi dekat, tanpa pernah benar-benar bersentuhan. Dia membiarkan aku menemaninya belanja sayur, menawar ke pedagang, marah pada tengkulak yang menipu timbangan. Aku menuliskan semuanya. Di media online, aku jadi pahlawan. Liputan itu dipuji “menggugah.”

Tapi di hadapannya, aku tak lebih dari pengganggu.

“Kau sudah menang, bukan? Kau dapat bayarannya.”
“Kau marah?”
“Untuk apa? Kau juga orang susah. Susahnya beda. Kau ingin nyaman, aku ingin hidup. Itu saja.”

Aku jatuh cinta padanya. Pada cara ia menerima nasib tanpa menyerah. Pada kata-kata getir yang tidak dibuat-buat.

Suatu malam aku menunggunya di depan rumah kontrakannya.

“Aku mau bicara.”
“Bicaralah.”
“Aku ingin menikah denganmu.”

Dia tak kaget. Hanya diam. Matanya redup.

“Kau ingin menolongku? Itu saja?”
“Aku mencintaimu.”
“Apa bedanya?”
“Aku ingin kita bersama.”
“Dan setelah itu? Kau ingin hidup susah denganku? Kau tak bisa. Kau orang kota. Kau akan benci baunya got mampet. Benci bunyi caci maki pasar. Kau akan lari.”

Aku ingin menyangkal. Tapi lidahku kelu.

Aku pulang malam itu dengan perasaan pecah. Aku menulis sepanjang malam. Menulis tentang dia. Bukan sebagai objek. Tapi sebagai manusia.

Tulisan itu tak pernah terbit. Pak Bayu, editorku, bilang:

“Terlalu muram. Tak ada harapan. Orang tak mau membaca derita polos begitu saja.”

Aku marah. Aku berhenti bekerja. Tapi hidup tak peduli. Aku jadi buruh percetakan. Kadang kuli angkut.

Tapi dia—tetap di pasar. Menawar, marah, menghitung receh. Seakan seluruh dunia hanya itu. Dan mungkin memang hanya itu untuknya.

Suatu hari aku kembali menemuinya. Aku kurus. Bajuku lusuh.

“Aku sudah tak jadi wartawan.”
“Aku tahu.”
“Aku sekarang sama seperti mereka.”
Dia menggeleng.
“Tidak. Kau masih berbeda.”
“Kenapa?”
“Kau masih ingin menceritakan ini semua. Kau masih ingin menulis.”
“Itu salah?”
“Tidak. Tapi itu bukan hidupku.”

Aku menunduk. Tak bisa berkata apa-apa.

Hingga suatu pagi aku mendengar dia dipenjara. Tuduhan mencuri beras.

Aku tahu dia tak bersalah. Aku menulis petisi. Aku menemui pejabat. Tak ada yang mau peduli.

Akhirnya aku sendiri yang meneriakkan protes. Di taman kota. Mengangkat papan karton. Mengumpat pada polisi.

Aku dipukuli. Ditangkap.

Sekarang di sinilah aku. Menggoreskan surat ini dengan arang bekas dapur penjara.

“Nisa, aku mencintaimu.”

Kata itu akhirnya kutulis. Tapi kepada siapa akan kukirim?

->bersambung

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website. Silahkan enable adblocker anda untuk tetapmendukung Suara Kami Tetap Independen