Pemilik Negeri Tak Pernah Bungkam

  • Whatsapp
IMG20260209152633 scaled
🔊

Bukan bacaan terkait dengan kecanduan ganja, putaw ataupun obat terlarang. Tulisan ini tidak mengandung konten seks, mistik dan judi online.Setelah membaca tulisan ini,tidak membuat mata anda menjadi sayu, salah tingkah dan binggung untuk berpendapat.

Pemilik Negeri Tak Pernah Bungkam

Menurut keyakinan saya kini

Lautan semangat manusia masih menjejak dalam protes hingar bingar
politik, mereka silih berganti memilih waktu, tempat, tema dan
pendapat.

Ruang demonstrasi merupakan sahabat pembelajaran bagi generasi baru terkini, memetakan suasana, keinginan, masa depan
,ingatan sejarah, generasi membaca sejarah, kerajaannya,
bangsa, penduduk, alam, negeri dan perilaku para penguasa tak
luput dari bacaan aksi generasi.

Apakah demikian juga dilakukan oleh para penguasa kini,penjaga negeri seharusnya memiliki pikiran untuk melayani pemilik
bangsa ?.

Negeri pun sudah lama berdiri kokoh tahan banting atas segala apapun. Semua pertemuan, diskusi, perbedaan, dilakukan para pendahulunya, memberikan
semua energi bagi bangsa agar bisa tampil menatap masa depan.

Tetapi akan bertahan sampai kapan ?.

Mata kamera, layar kaca, catatan pena tidak mampu lagi untuk membuat, mencetak, menangkap kisah ,
merekam perbuatan kisah peristiwa.

Lalu pixel warna ini menjadi lukisan kisah, kata tersampaikan melalui pesan kepada seluruh bagian dunia lainnya.

Terbayarkan tanpa adegan drama, latar belakang, alur cerita dan
suasana.

Suara mendukung & pendukung lantas lari lalu diam tak tertanggung serta menjawab. Berpendapat lalu terbuka bagi para manusia lain untuk melihat apa yang sedang terjadi merupakan hak kemanusiaan
ketika terjadi suatu peristiwa, keadaan terhadap manusia lainnya.

Manusia berkelompok dengan aksi persamaan hak, keadilan, kehidupan layak,terbebaskan, pendidikan setara, perekonomian dimajukan dan kesejahteraan bagi semua manusia merupakan pilihan ideal bagi hidup.

Ketika setiap bangsa mempunyai pilihan sendri untuk bergerak, melawan, berunjuk rasa , menyatakan pendapat, tetapi bukan hanya itu yang akan didapatkannya kelak.

Para pelayan negeri ini bertingkah
seperti pemilik negeri, tidak mengenal bangsanya sendiri. Membuat peraturan yang tidak tepat bagi bangsanya, karet, plastik,rapuh seperti kertas , palsu, pikir sendiri lalu tergelatak dalam peti kematian.

Mencari kesalahan kepada pemilik negeri ketika para pelayan tidak pernah cukup untuk memiliki seisi semesta.

Rasa haus kekuasaan menjadi terbakar , kesatuan, terencana, tergerak cepat, mengamankan semua hal agar para pemilik negeri tidak bisa mengatakan tidak bagi
apa yang telah mereka perbuat.

Aksi pemilik negeri mempunyai batasan.

Perlawanan ketidaksepakatan akan terjadi oleh para pelayan negeri, suara parau,
mengabarkan ketakutan, kecaman, mata turun , gerakannya sigap, mencari , menteror siapa saja yang berusaha untuk halangi keinginannya.

Telinga sudah tidak bisa mendengar lagi, perintah pemilik negeri selalu menjadi kritik tanpa pernah diselesaikan.

Hatinya sudah tergantikan oleh kebencian, kebebasan pendapat menjadi ancama.

Pemilik negeri tetap berdiri melawan, duduk, merayap, terluka, tak ada lagi kata
menangis. Selalu hadir dalam mimpi tidur anda para pejabat dan penguasa yang lupa siapa dirinya.

Pelayan negeri terus berpola dan bertingkah menjadi apa yang mereka mau untuk bersikap, bertindak
dan membuat peraturan.

Kemanusiaan, periode jaman, kebebasan lainya akan datang , mencatat
sejarah manusia baru, memberikan warna-warni semangat pemilik
negeri, bertukar ilmu, gagasan,pandangan, rancangan bagi manusia baru, memberikan gagasan
agar selalu kuat bagi pemilik negerinya sendiri.

Tidak ada lagi kata menyerah untuk pelayan negeri yang kini sudah berubah menjadi penguasa.

Menunggu suara dari langit, pencabut nyawa akan datang lalu menimbang roh, mencatat kejadian dan meminta
pertanggung jawaban kelak.

Tentang berapa banyak korban ?

Tentang berapa banyak ketidakadilan ?

Penulis: [MOC]

Pos terkait